Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Petani Tebu di Pati Antisipasi Kenaikan Ongkos Produksi

Ongkos perawatan tanaman diperkirakan bakal melonjak. Petani memilih untuk mengganti tenaga buruh ke mesin.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 15 September 2022  |  20:10 WIB
Petani Tebu di Pati Antisipasi Kenaikan Ongkos Produksi
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur. - Antara/Ari Bowo Sucipto
Bagikan

Bisnis.com, SEMARANG - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) diperkirakan bakal mendorong pergerakan harga sejumlah bahan pokok. Kenaikan biaya transportasi dan logistik tak bisa dihindari. Bahkan, hal tersebut juga berpotensi membebani biaya pertanian.

Petani tebu di Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, telah sedikit banyak mengalami dampak kenaikan harga BBM itu. Dilaporkan, ongkos buruh garap lahan telah mengalami kenaikan hingga puluhan ribu rupiah. "Tebu yang habis ditebas dan kemudian dipapar, dulu tenaga borongan mau dibayar Rp600.000. Sekarang sudah minta Rp1 juta," jelas Kamari, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PG Trangkil, Kamis (15/9/2022).

Kamari menjelaskan bahwa kenaikan biaya buruh garap terjadi secara menyeluruh. Tak cuma ongkos buruh pengolah lahan pasca-panen, tapi juga buruh penggarap lahan, serta penebas tebu saat panen.

"Ongkos garap itu jelas ada kenaikan, tenaga itu juga sama. Apalagi setelah kenaikan BBM. Tenaga lepas yang biasa kerja sampai jam 12.00, yang biasa Rp70.000, itu bisa naik sampai Rp100.000 per harinya," jelas Kamari kepada Bisnis.

Untuk mengakali hal tersebut, Kamari menyebut petani-petani di wilayahnya bakal melakukan efisiensi. Lahan yang dulunya digarap sepenuhnya menggunakan tenaga manusia, kini secara perlahan bakal coba memanfaatkan tenaga mesin.

Untungnya, petani yang memasok tebu bagi PG Trangkil bisa memanfaatkan sejumlah mesin pertanian yang sudah disediakan pabrik. "Petani bisa sewa alat itu, dari PG kadang ada yang menyediakan. Koperasinya juga ada," jelas Kamari.

Pada perkembangan lainnya, beban petani tebu juga kian berat dengan dicabutnya subsidi pupuk jenis ZA. Sebagai informasi, pupuk jenis itu memang sangat dibutuhkan petani tebu guna meningkatkan produktivitas lahannya.

Kamari memang mengaku kesulitan untuk mengakses pupuk ZA ketika masih disubsidi pemerintah. Namun, di tengah kesulitan itu, petani-petani tebu masih bisa mengupayakan ketersediaannya dengan berbagai cara. Kini, setelah subsidi pupuk dicabut, Kamari memperkirakan biaya perawatan tebu bakal meningkat hingga empat kali lipat dari sebelumnya.

"Kemarin saat pupuk subsidi itu satu ton sekitar Rp2 jutaan. Kalau ini nanti, tanpa subsidi, keluarnya bisa empat kali lipat. Kemarin walaupun barangnya susah kita bisa cari-cari, sekarang barangnya ada tapi harganya membengkak," ucap Kamari melalui sambungan telepon.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertanian perkebunan tebu Harga BBM
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top