Manufaktur Jateng Terdampak Kenaikan Harga Komoditas Global

Banyaknya pembelian barang modal dan bahan baku di periode sebelumnya menjadi penyebab menurunnya impor Jawa Tengah di bulan September 2022.
Ilustrasi: Salah seorang pekerja tengah membersihkan udang yang bakal diolah menjadi produk siap saji./Bisnis-Muhammad Faisal Nur Ikhsan.
Ilustrasi: Salah seorang pekerja tengah membersihkan udang yang bakal diolah menjadi produk siap saji./Bisnis-Muhammad Faisal Nur Ikhsan.

Bisnis.com, SEMARANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat nilai impor nonmigas pada September 2022 mengalami penurunan sebesar US$85,06 juta atau 13,21 persen (mtm).

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah Arif Sambodo menyebut kenaikan harga sejumlah komoditas jadi penyebab turunnya nilai impor tersebut.

"Pelaku industri tidak berani ambil barang modal lebih banyak. Seperti kedelai kemarin, harganya kan mahal, maka kita coba budidayakan di sektor pertanian," jelas Arif saat dihubungi Bisnis pada Kamis (3/11/2022).

Arif menambahkan, untuk menyiasati kenaikan harga komoditas pangan, Jawa Tengah telah melakukan substitusi bahan baku. Tergantung dengan ketersediaan dan harga di pasaran.

"Pelaku usaha biasanya akan menyesuaikan sendiri, makanya penurunan impor ini jadi terpengaruh," katanya.

Secara tidak langsung, hal tersebut menunjukkan bahwa sektor manufaktur di Jawa Tengah ikut terpukul dengan kenaikan sejumlah harga komoditas di tingkat global. Namun demikian, Arif menyebut penurunan impor tersebut juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti penurunan daya beli industri.

"Kemarin kan terus terang kita sedang mengejar, katakanlah Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). Pabrik-pabrik sudah tinggal dibangun, maka barang modal itu sudah ada. Perluasan pabrik alas kaki juga sudah banyak dilakukan di Jepara, sekarang tinggal pasang. Makanya pembelian sekarang agak turun," jelas Arif.

Secara umum, Arif optimis hingga pengujung tahun 2022 ini kinerja ekspor-impor di Jawa Tengah bakal tetap positif. Meskipun ekspor nonmigas ikut mengalami penurunan.

"Tapi kita tertolong dengan impor di Kuartal IV/2022 yang biasanya tidak terlalu besar," tambahnya.

Sebelumnya, BPS mencatat neraca perdagangan Jawa Tengah pada September 2022 mengalami defisit di angka US$193,60 juta. Kondisi itu disebabkan oleh turunnya kinerja ekspor dan impor di Jawa Tengah.

"Ekspor nonmigas pada September 2022 mencapai US$ 865,32 juta, turun sebesar US$93,86 juta atau 9,79 persen dibanding nilai ekspor non migas pada Agustus 2022," jelas Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah Adhi Wiriana, Selasa (1/11/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper