Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Inflasi Tahunan di DIY, Wilayah Perkotaan Terbesar

Pada Mei 2024, wilayah DI Yogyakarta mengalami deflasi sebesar 0,08% (mtm). Namun demikian, secara tahunan, inflasi terjadi di angka 2,28% (yoy).
Suasana wisata di Gunungkidul, Yogyakarta, Kamis (18/8/2022)./Bisnis-Suselo Jati
Suasana wisata di Gunungkidul, Yogyakarta, Kamis (18/8/2022)./Bisnis-Suselo Jati

Bisnis.com, SEMARANG - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) di wilayah DI Yogyakarta tengah mengalami deflasi di angka 0,08% secara month-to-month (mtm).

Penurunan harga angkutan antar kota, beras, tomat, daging ayam ras, juga cabai rawit menjadi pemicu terjadinya deflasi.Dilihat secara tahunan, inflasi di DI Yogyakarta berada di kisaran 2,28% (year-on-year/yoy).

Ibrahim, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DI Yogyakarta, menyebut capaian itu lebih rendah jika dibandingkan dengan April 2024.

"Perbaikan capaian ini tidak terlepas dari sinergi berbagai upaya pengendalian inflasi dalam Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DI Yogyakarta yang semakin solid, dengan didukung pengkinian data IHK mengacu pada Survei Biaya Hidup (SBH) 2022 dengan tambahan Kabupaten Gunung Kidul untuk mewakili daerah rural," jelas Ibrahim pada Selasa (4/6/2024).

Ibrahim menjelaskan bahwa meskipun beberapa komoditas menunjukkan penurunan harga, namun masih ada komoditas yang mengalami kenaikan sehingga menahan laju deflasi. Salah satunya adalah harga emas perhiasan yang mengalami peningkatan dan memberikan andil penghambat deflasi sebesar 0,08 (mtm) atau 0,23% (yoy).

"Sejalan dengan kenaikan harga emas global sebagai dampak berlanjutnya ketegangan politik Timur Tengah dan ketidakpastian global seiring high for longer suku bunga The Fed," jelasnya.

Berdasarkan catatan BPS, angka inflasi di DI Yogyakarta paling besar berada di wilayah perkotaan. Pada Mei 2024, inflasi di Kota Yogyakarta berada di angka 2,69% (yoy). Di wilayah pedesaan yang diwakili oleh Kabupaten Gunung Kidul, tingkat inflasi secara tahunan berada di angka 1,96%.

Ibrahim menyampaikan bahwa ke depan TPID DI Yogyakarta bakal terus menjaga inflasi agar tetap dalam kisaran target yang telah ditentukan. Hal tersebut dilakukan dengan memastikan ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. TPID DI Yogyakarta juga melakukan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

"Di antaranya pelaksanaan operasi pasar atau pasar murah yang diperkuat dengan optimalisasi Kios Segoro Aarto yang menjadi referensi harga untuk menjaga daya beli," jelas Ibrahim dalam siaran persnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper