Peternak Ayam Petelur Jateng Keluhkan Mahalnya Jagung

Oleh: Alif Nazzala Rizqi 02 Oktober 2018 | 14:39 WIB
Peternak Ayam Petelur Jateng Keluhkan Mahalnya Jagung
Buruh tani memindahkan jagung ke dalam bak truk usai dipetik di area pertanian Desa Paron, Kediri, Jawa Timur, Senin (6/8/2018)./ANTARA-Prasetia Fauzani

Bisnis.com, SEMARANG – Persaingan perebutan jagung antara pabrikan pakan dan peternak ayam membuat bahan utama campuran pakan ini semakin mahal. Imbasnya biaya yang ditanggung peternak meningkat.

Produksi telur ayam di Jateng mencapai 1.200 ton per hari. Sementara itu, kebutuhan jagung mencapai 1.450 ton per hari dengan total populasi ayam petelur mencapai 29,5 juta ekor.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional Jawa Tengah Suwardi mengatakan dalam kondisi normal harga telur dijual Rp19.000 - 20.000 per kilogram. Namun saat ini harga telur ayam hanya Rp18.000 per kilogramnya.

"Sementara di lapangan harga jagung naik faktor utamanya di Jawa tidak ada panen raya. Hanya 60% di semester 1 dan 35-40% semester 2 karena kemarau panjang," kata Suwardi kepada Bisnis, Selasa (2/10/2018).

Suwardi mengatakan, selain tak ada panen raya, mahalnya harga jagung juga didorong persaingan dari feedmill karena feedmill tidak ada kuota impor.

Sementara di sisi harga jual telur, peternak juga telah telah menjual telur sesuai dengan tarif bawah yang telah ditetapkan Kementerian Perdagangan. "Hari ini harga Rp18.000 di kandang, sudah sesuai harga batas bawah yang ditetapkan Kemendag," ujarnya.

Ditambahkan, para peternak ingin agar harga jagung bisa kembali normal. Jika perlu pemerintah bisa mengatur harga jagung atau melakukan impor jagung agar tidak terjadi persaingan dengan feedmiil.

"Kami berharap pemerintah bisa menyediakan harga jagung yang terjangkau," katanya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya