Pelonggaran LTV Tak Serta Merta Semarakkan Penjualan Rumah di Semarang

Kelesuan yang terjadi tidak hanya pada properti.
Alif Nazzala Rizqi | 06 Juli 2018 20:47 WIB
Pekerja mengerjakan pembangunan salah satu perumahan mewah di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (15/1). Data Bank Indonesia (BI) menyebutkan, kredit real estate tumbuh 8,7 persen atau menjadi Rp135,7 triliun per November 2017, sementara kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) tumbuh 11 persen. ANTARA FOTO - Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, SEMARANG – Pagelaran kelima Property Expo Semarang, menargetkan 65 unit rumah laku terjual selama penyelenggaraannya mulai dari Jumat-Selasa (6/7-17/7).

Ketua panitia Property Expo Semarang, Dibya K Hidayat mengatakan, meski kondisi penjualan properti belum menunjukkan peningkatan yang signifikan, dia optimistis target tersebut bisa terpenuhi.

"Pameran kali ini diikuti 11 pengembang dan 7 pendukung. Kita optimistis target 65 unit rumah bisa laku terjual meski empat kali pameran kemarin belum memenuhi target kami," kata Dibya, Jumat (6/7/2018).

Dijelaskan Dibya, kelesuan yang terjadi tidak hanya pada properti namun di semua sektor tengah mengalami stagnansi. Penjualan properti memang tak seramai biasanya.

"Kalau kami berbicara dengan pihak perbankan dari semua sektor tengah mengalami stagnansi. Jadi belum tentu menurun, namun ini harus ada perbaikan," ucapnya.

Dibya menambahkan, faktor menurunnya minat pembelian properti diakuinya tidak ada yang pernah tahu. Namun jika mengacu pada kata pengamat hal itu lebih disebabkan karena saat ini adalah tahun politik.

"Kalau pengamat [mengatakan] karena faktor politik. Namun kalau saya ketika orang beli rumah tidak bisa ditunda, jadi tidak ada masalah dengan politik. Beli rumah ya beli rumah tidak bisa ditunda-tunda," ujarnya.

Selain itu lanjut dia, perbaikan harus segera dilakukan karena laporan ekonomi saat ini sedang tumbuh, sehingga dunia properti juga harus baik. Dia menyampaikan, seiring dengan bertumbuhnya ekonomi penjualan properti juga harus meningkat.

Adapun terkait kebijakan relaksasi LTV yang baru saja dikeluarkan Bank Indonesia (BI), DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah menilai imbasnya tak langsung terasa.

Ketua DPD REI Jateng, MR Prijanto mengatakan, relaksasi LTV lebih cocok diterapkan di Jakarta. Pasalnya, banyak para pengusaha yang membeli properti yang kemudian dijual, sehingga dengan down payment yang rendah sangat menguntungkan mereka.

"LTV di Jateng agak berbeda dengan Jakarta. LTV sangat potensial dalam rangka marketing. Di sana [Jakarta] banyak perorangan atau pengusaha yang berbisnis untuk jual beli properti. Dia mengunakan LTV rendah untuk beli rumah berapa unit dan setelah angsuran atau KPR selasai bisa dijual. Tapi kalau di Jateng tidak, orang perlu beli rumah ya sudah beli danJateng untuk jual beli jarang, lebih ke pemilikan langsung," kata MR Prijanto, Jumat (6/7/2018).

Kendati demikian, dia mengungkapkan, relaksasi LTV yang ditawarkan BI adalah sesuatu yang positif. Hal itu, karena sekarang syarat memiliki hunian kian berkurang.

"LTV salah satu cara percepatan bagian uang muka. Dan sebetulnya masih banyak (syarat memiliki rumah) ada bunga dan lainnya," jelasnya.

Tag : perumahan, semarang
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top