Dongkrak Pendapatan, PTPN IX Pacu Wisata Kebun Jollong

PT Perkebunan Nusantara IX terus mengoptimalkan sektor pariwisata untuk mendongkrak pendapatan. Salah satu wisata yang sedang naik daun adalah argowisata Kebun Jollong di Kabupaten Pati.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 04 April 2019  |  21:04 WIB

Bisnis.com, PATI - PT Perkebunan Nusantara IX terus mengoptimalkan sektor pariwisata untuk mendongkrak pendapatan. Salah satu wisata yang sedang naik daun adalah argowisata Kebun Jollong di Kabupaten Pati.

Awalnya, Jollong sekadar kebun kopi peninggalan zaman kolonial Belanda. Karena melihat ada potensi wisata alam, pada 2012 silam, PTPN IX coba membuat sejumlah spot foto dan fasilitas tambahan untuk menunjang pariwisata. Kebun holtikulura pun dibuka.

Kini, perkebunan yang berada di 650-900 meter di atas permukaan laut (dpl) ini memiliki 233 hektare kebun kopi, 29 hektare kebun buah naga, dan 44 hektare kebun jeruk keprok dan jeruk pamello.

Dengan tiket masuk sebesar Rp7.000 pengunjung bisa menikmati taman selfie juga disediakan oleh pihak pengelola, PT. Perkebunan Nusantara IX agar pengunjung bisa berfoto dan beristirahat. Sembari menikmati pemandangan kebun kopi,  jeruk,  buah naga, dan yang tidak kalah menariknya adalah sunset.

Tidak hanya taman payung dan lampion yang instagramable, wahana permainan seperti flying fox juga tersedia. Untuk menikmati nuansa pegunungan dan sunset, jarak yang harus ditempuh dari pusat kota Pati kurang lebih 20 kilometer.

Pemandangan kebun kopi di sebelah kanan dan kiri menjadi ciri khas bahwa pengunjung akan segera sampai. Wilayah ini memang merupakan sentra penghasil kopi di Pati. 

"Perkebunan yang dikelola PTPN IX ini merupakan kawasan perkebunan kopi yang dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda. Sampai sekarang masih dikelola dengan baik, bahkan selalu berkembang," kata Asisten Kepala Kebun Jollong Nurdianto Kamis (4/4/2019).

Di sisi lain, dengan lahan seluas 530 ha, pihak pengelola juga menyediakan kereta wisata bagi pengunjung yang ingin berkeliling. Biaya sewa satu kereta dengan kapasitas 12 orang dibanderol Rp150.000 untuk jarak 4 km dan Rp250.000 untuk jarak 5 km. 

Dijelaskan, sejak dikemas menjadi objek wisata, pendapatan Agrowisata Jollong meroket. Pada 2015 silam, pendapatannya hanya Rp128 juta per tahun. Sementara 2018 kemarin, tembus Rp2,784 miliar. "Tahun 2019 ini, kami targetkan naik menjadi Rp2,9 miliar," tuturnya.

Mengenai jumlah wisatawan, setiap bulan, Jollong didatangi sekitar 5 sampai 10.000 wisatawan lokal. "Kalau pas musim liburan, bisa sampai 15.000 wisatawan per bulan," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ptpn ix, EKOWISATA

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top