PLTU Tanjung Jati B Siap Ekspansi Bisnis Beton

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menargetkan PLTU Tanjung Jati B melebarkan sayap bisnis ke produk beton sebagai langkah pengelolaan limbah dan pemberdayaan masyarakat.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  15:16 WIB
PLTU Tanjung Jati B Siap Ekspansi Bisnis Beton
PLTU Tanjung Jati B - pln.co.id

Bisnis.com, SEMARANG—PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menargetkan PLTU Tanjung Jati B melebarkan sayap bisnis ke produk beton sebagai langkah pengelolaan limbah dan pemberdayaan masyarakat.

General Manager PLN Pembangkitan Tanjung Jati B Komang Paramita mengungkapkan, perusahaan berupaya mengelola limbah B3 dengan cara yang ramah lingkungan. Salah satunya membuat limbah berupa fly ash dan bottom ash menjadi produk beton seperti paving, batako, dan beton pracetak.

“Produk tersebut nantinya juga dijual secara komersial. Jadi, selain menjaga lingkungan, proyek tersebut dapat memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar,” ujarnya di sela acara seminar TJB Infinite 2019 di Semarang, Selasa (30/7/2019).

Selain untuk bahan bangunan, produk olahan fly ash dapat buat untuk mengecor jalan. PLN sudah bekerja sama dengan Kabupaten Demak dan Universitas Diponegoro untuk uji coba renovasi jalan sepanjang 3,5 kilo meter (km).

Saat ini, PLN tengah mengajukan perizinan produksi produk beton dari bahan limbah ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Diharapkan perizinan tersebut dapat keluar pada Agustus 2019, sehingga produksi secara komersial dapat dimulai.

“Target kita tahun ini sudah berjalan produksi. Setelah izin keluar, bisa langsung produksi. Perusahaan juga sudah menyiapkan fasilitas pencetakan beton,” imbuhnya.

Menurut Komang, pada tahap awal produksi paving blok diharapkan mencapai 100 unit per hari. Ke depannya, PLN menargetkan kapasitas produksi mencapai 2.000 unit per hari, sehingga limbah fly ash dari PLTU Tanjung Jati B dapat digunakan seluruhnya.

Sebelumnya bahan fly ash juga dijual ke perusahaan semen, sebagai salah satu campuran bahan baku. Namun, permintaan dari produsen semen cenderung stagnan dan menurun. Oleh karena itu, PLN berupaya mengolah fly ash secara mandiri untuk dikomersialkan.

Adapun, terkait model bisnis, Komang mengakui masih dalam tahap pembahasan. Yang terpenting saat ini perusahaan fokus pada tahapan perizinan dan memulai produksi secepatnya.

“Model bisnis apakah dengan anak usaha baru, atau seperti apa akan kami atur. Tentunya kami cenderung untuk bekerja bersama masyarakat. Yang penting bisa dimulai dulu produksinya sesuai izin,” imbuhnya.

PLTU Tanjung Jati B yang terletak di Jepara, Jawa Tengah, mengoperasikan Unit 1 dan 2 sebesar 2x661 MW pada 2011. Selanjutnya, pada 2011 PLN menjalankan Unit 3 dan 4 dengan daya serupa, sehingga total daya mencapai 2.664 MW.

Saat ini, perusahaan sedang mengembangkan Unit 5 dan 6 berkapasitas 2x1.000 MW. Bila seluruhnya rapung, maka PLTU Tanjung Jati B mengoperasikan pembangkit berdaya 4.664 MW, terbesar di Indonesia.

Komang mengatakan, progress pengembangan PLTU Tanjung Jati B Unit 5 dan 6 sudah mencapai 75%. Diharapkan operasi komersial (COD) dilakukan pada 2021—2022.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN, pltu, beton

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top