Pacu Industri TPT, Pengusaha Butuh Insentif

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah menyuarakan pebisnis membutuhkan insentif lebih untuk dapat memacu industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) secara terintegrasi dari hulu ke hilir.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  18:40 WIB
Pacu Industri TPT, Pengusaha Butuh Insentif
Ilustrasi - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, SEMARANG—Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah menyuarakan pebisnis membutuhkan insentif lebih untuk dapat memacu industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) secara terintegrasi dari hulu ke hilir.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi menyampaikan, industri TPT dapat dimaksimalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, karena menjadi andalan ekspor Jawa Tengah.

Sektor TPT berkontribusi 43,37% atau US$1.765,73 juta dari total ekspor non migas pada semester I/2019 Jateng senilai US$4.071,14 juta.

Agar industri TPT kian optimal pelaku usaha membutuhkan insentif untuk melakukan investasi dari hulu ke hilir. Tujuannya adalah membangun bisnis yang terintegrasi, memaksimalkan produksi, dan mengurangi impor bahan baku.

“Harus ada terobosan insentif yang besar agar pengusaha bergairah investasi TPT. Karena target pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 7% tak biasa, makanya perlu dorongan insentif yang luar biasa,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (13/8/2019).

Untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional, pemerintah pusat menargetkan Pertumbuhan Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah mencapai 7% pada 2023, melesat dari 2018 sebesar 5,32%. Pencapaian target PDRB tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sebesar Rp774 triliun.

Frans menyampaikan, Vietnam sudah berhasil memacu industri TPT, sehingga nilai produksinya mencapai US$34 juta, meningkat pesat dibandingkan Indonesia sebesar US$14 juta. Padahal, sebelumnya Vietnam melakukan studi TPT dengan Indonesia.

“Sekarang industri TPT kita sudah kalah bersaing dengan Vietnam, makanya butuh strategi bisnis yang terintegrasi, sekaligus mendiversifikasi produk ekspor,” imbuhnya.

Kondisi mesin tekstil di Jateng dan Indonesia secara umum usianya sudah tua, sehingga perlu melakukan upgrade peralatan yang membutuhkan biaya hingga puluhan miliar rupiah. Namun, perusahaan kerap terkendala permodalan dan membutuhkan bunga pinjaman yang terjangkau.

Tantangan lain yang membayangi industri TPT ialah tenaga kerja terampil. Menurut Frans, perusahaan tentunya melakukan pelatihan dan vokasi, tetapi jumlahnya tidak mencukupi karena TPT merupakan industri yang padat karya dari hulu ke hilir.

“Kami juga membutuhkan insentif kredit permodalan, dan juga pelatihan vokasi tenaga kerja. Karena yang pengusaha lakukan saat ini kapasitasnya belum mencukupi,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tekstil, tpt

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top