Petani Kelapa Kalibawang Produksi Virgin Coconut Oil

Di tangan Agung Saputra, produksi kelapa Kalibawang yang melimpah bisa diolah menjadi lebih bernilai ekonomi tinggi. Tidak melulu menjadikannya sebagai bahan masakan atau produk lainnya, kelapa bisa diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO).
Fahmi Ahmad Burhan
Fahmi Ahmad Burhan - Bisnis.com 31 Agustus 2019  |  17:25 WIB
Petani Kelapa Kalibawang Produksi Virgin Coconut Oil
Pelaku usaha Virgin Coconut Oil (VCO), Agung Saputra sedang mengemasi produknya pada Jumat (30/8/2019) di Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan

Bisnis.com, KULONPROGO-Di tangan Agung Saputra, produksi kelapa Kalibawang yang melimpah bisa diolah menjadi lebih bernilai ekonomi tinggi. Tidak melulu menjadikannya sebagai bahan masakan atau produk lainnya, kelapa bisa diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO).

Agung mengatakan, biasanya, kesan buruk tertanam pada minyak kelapa, karena dianggap mengandung lemak jenuh yang tinggi. Padahal, ia sudah membuktikan, kandungan dari minyak kelapa bisa diolah dan malah bermanfaat bagi kesehatan dengan menjadikannya VCO.

"Tanpa pemanasan. Paling sehat ya minyak VCO," ungkap Agung pada Jumat (30/8/2019). Bahkan, sudah setahun ia memproduksi VCO secara rumahan, peminatnya banyak dari kalangan orang-orang untuk diet.

Tidak hanya untuk konsumsi langsung, terkadang, ada juga yang berminat untuk kebutuhan kosmetik. "Biasanya digunakan untuk bahan pembuatan sabun alami atau organik," kata Agung.

Berawal dari produksi kelapa yang melimpah di sekitaran rumahnya di Kalibawang, ia mencoba mengembangkan produksi kelapa itu. "Latar belakang membuat VCO karena melihat di daerah sini ketika musim panen harga kelapa itu tidak dihargai, bahkan harganya sampai Rp1.000 per butir. Padahal masa panennya sampai dua bulan. Setiap rumah punya kelapa," tutur Agung. Merek pada produk VCO tersebut memakai nama khas tempatnya, Menoreh VCO.

Agung berani membeli kelapa tidak sesuai harga pasar yang murah karena ia percaya, dari kelapa itu bisa diolah hingga mendapatkan nilai ekonomi yang tinggi. Ia biasa membeli kelapa sebagai bahan baku VCO tidak kurang dari Rp3.000 per butirnya. Untuk satu liter minyak VCO, ia membutuhkan 10 sampai 15 kelapa.

Ia membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk satu kali produksinya. Setiap sekali produksi ia bisa menghasilkan VCO sebanyak 20 liter. Ia kemudian jual dengan berbagai ukuran dan varian harga. Ada yang ukuran 1 liter dengan harga Rp135.000 sampai yang paling kecil ukuran 100 mililiter dengan harga Rp25.000.

Semakin hari, permintaan VCO semakin ramai. "Dulu pas awal-awal permintaan itu dalam seminggunya kurang dari 20 liter, sekarang lebih dari 20 liter bahkan dua jeriken," ungkap Agung. Ukuran satu jeriken bisa menampung 20 liter.

Saat ini, untuk pemasarannya, Agung masih mengandalkan jaringan orang-orang yang membutuhkan produk-produk organik. Meski demikian, ia mengaku sudah mencoba untuk masuk memasarkan di Toko Milik Rakyat (Tomira) bahkan mencoba di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), namun karena pertimbangan bisnis, ia menarik diri dan lebih memilih mengandalkan jaringan.

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perdagangan Kulonprogo, Dewantoro Slamet mengatakan, potensi kelapa di Kulonprogo melimpah. Banyak warga yang memanfaatkannya untuk dijadikan gula semut, bahan masakan, ataupun produk olahan lainnya. Hanya saja, untuk mengembangkannya dan bisa masuk dipasarkan ke bandara, perlu inovasi yang kuat dan tahap seleksinya pun ketat.

"Seleksinya cukup ketat. Kita juga sudah ajukan beberapa UMKM sebelumnya, banyak yang gagal, ada juga yang masuk dan akan menambah produk UMKM di Bandara YIA," ujar Dewantoro.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kelapa

Sumber : harianjogja.com

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top