Pemprov Jateng Janjikan Kemudahan Restrukturisasi Mesin Industri Besar

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana membuat program restrukturisasi mesin untuk industri skala besar agar produktivitas perusahaan dapat meningkat sekaligus memacu ekspor.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  17:20 WIB
Pemprov Jateng Janjikan Kemudahan Restrukturisasi Mesin Industri Besar
Ilustrasi kegiatan di pabrik tekstil. Sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi andalan Jawa Tengah. - Reuters

Bisnis.com, SEMARANG—Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana membuat program restrukturisasi mesin untuk industri skala besar agar produktivitas perusahaan dapat meningkat sekaligus memacu ekspor.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah Arif Sambodo menyebutkan pihaknya berencana membuat program restrukturisasi mesin-mesin produksi berkapasitas besar.

Saat ini, tantangan yang dihadapi pelaku usaha ialah mesin-mesin skala kakap sudah melewati usia ekonomi dan teknis. Artinya, secara operasional mesin-mesin itu memerlukan biaya lebih dalam hal perawatan. Di sisi lain, produktivitas mesin tua cenderung menurun.

“Kemudahan impor mesin untuk perusahaan besar bisa menjadi insentif, dan mungkin bisa ada tambahan kemudahan dari sisi pembiayaan. Saat ini restrukturisasi yang sudah berjalan baru skala industri kecil menengah (IKM), karena memang ada subsidi pemerintah,” tuturnya kepada Bisnis pada Selasa (8/10/2019).

Per Agustus 2019, nilai impor Jateng turun 14,81% yoy menjadi US$8.289,51 juta dari sebelumnya US$9.731,16 juta. Penurunan impor terjadi di sektor barang konsumsi (-24,30%) dan bahan baku atau penolong (-23,97%), sedangkan barang modal naik 57,30%.

Arif menyampaikan peningkatan impor barang modal merupakan indikasi positif karena pelaku usaha ingin meningkatkan produktivitas melalui pembelian mesin, sekaligus mensubtitusi bahan baku dari luar negeri.

Misalnya, industri tekstil mulai memproduksi benang staple sendiri, sehingga mengurangi volume impor. Sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi andalan Jateng, karena berkontribusi 44,03% atau US$2.432,42 juta terhadap total ekspor per Agustus 2019.

Dia pun mengapresiasi rencana Kemendag untuk merevisi 18 Permendag untuk mendorong investasi dan ekspor.

Salah satunya ialah regulasi Permendag No. 17/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Permendag Nomor 127/M-Dag/Per/12/2015 tentang Ketentuan Impor Barang Modal dalam Keadaan Tidak Baru.

“Secara umum pengusaha kita butuh barang modal seperti mesin untuk meningkatkan produktivitas,” tambahnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi menyampaikan mesin tekstil di Jateng dan Indonesia secara umum usianya sudah tua, sehingga perlu melakukan upgrade peralatan. Namun, perusahaan kerap terkendala permodalan dan memerlukan bunga pinjaman yang terjangkau.

Agar industri TPT kian optimal pelaku usaha memerlukan insentif untuk melakukan investasi dari hulu ke hilir. Tujuannya adalah membangun bisnis yang terintegrasi, memaksimalkan produksi, dan mengurangi impor bahan baku.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jawa tengah, mesin industri

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top