Waspada Longsor, Ini Titik Rawan di Jateng

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengimbau kepada masyarakat, terutama yang bermukim di zona kuning dan merah atau rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan saat musim hujan.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 13 November 2019  |  20:07 WIB
Waspada Longsor, Ini Titik Rawan di Jateng
Ilustrasi bencana longsor. - Reuters/Santiago Osorio

Bisnis.com, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengimbau kepada masyarakat terutama yang bermukim di zona kuning dan merah atau rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan saat musim hujan.

Kepala Dinas Energi Sumber Data dan Mineral Jateng Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan curah hujan selama November 2019 relatif normal dan di bawah normal. Puncak hujan diperkirakan terjadi pada Februari 2020.

Namun, sejumlah daerah rawan longsor di Jateng harus meningkatkan kewaspadaan. Daerah itu antara lain Banjarnegara, Wonosobo, Purbalingga, wilayah selatan Pemalang, Pekalongan, Purworejo terutama bagian utara, Banyumas, dan Kebumen.

“Memasuki musim hujan tahun ini atau hingga pertengahan November, ada satu kejadian tebing yang longsor dan menimpa satu rumah di daerah Banjarnegara. Selain itu, tanah retak di salah satu desa di Salaman, Kabupaten Magelang. Ini perlu diwaspadai,” ujarnya pada Rabu (13/11/2019).

Menurutnya, longsor merupakan peristiwa geologi yang wajar terjadi, seperti luapan awan panas Gunung Merapi. Namun, agar tidak menjadi bencana yang memakan korban, seluruh pihak perlu melakukan langkah antisipasi.

Secara reguler Dinas ESDM melakukan pemantauan dan pemeriksaan di 27 kabupaten/kota yang rawan gerakan tanah. Aspek-aspek yang diamati antara lain adanya retakan, pohon dan tiang listrik miring, air sungai keruh dan mengandung kerikil, pergerakan bongkahan batu secara tiba-tiba, serta munculnya rembesan air di tebing.

Terkait dengan kewaspadaan terhadap bencana, Dinas ESDM Jateng memberikan surat edaran kepada pemerintah daerah. Den gan surat edaran kewaspadaan tersebut, diharapkan kemudian ada tindakan-tindakan mitigasi atau lebih lanjut.

Tindakan mitigasi bencana longsor dapat dilakukan dengan membersihkan drainase, sehingga aliran air tidak tersumbat, memelihara early warning system (EWS), dan menutup celah-celah tanah yang membuka atau retak.

Menurut Sujarwanto, jika hujan turun lebih dari 2 jam di area rawan, warga di perbukitan dan lereng diminta jangan tidur karena berpotensi terjadi bencana.

“Kalau hujan turun lebih dari 2 jam, masyarakat harus waspada, terutama warga di zona kuning dan merah rawan bencana longsor jangan tidur. Warga di daerah perbukitan dan lereng pegunungan harus meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda longsor,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
longsor, bencana alam

Editor : M. Syahran W. Lubis
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top