Cerita Khas Pasar Ular, Cobra Ternyata Paling Murah

Ada sejumlah kantong terikat rapat yang berisi ular bandotan macan atau akrab disebut macanan dan ular sowo kembang atau piton yang ditaksir panjangnya lebih dari tiga meter dengan berat 11 kilogram.
Miftahul Ulum
Miftahul Ulum - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  10:16 WIB
Cerita Khas Pasar Ular, Cobra Ternyata Paling Murah
Darmolam, 60 (kanan) memeriksa ular yang ditawarkan penjual di pasar ular di belakang Sub Terminal Ngadirojo, Desa Ngadirojo Kidul, Senin (13/1/2020). - JIBI/Cahyadi Kurniawan

Bisnis.com, WONOGIRI — Setiap pasaran Pon dalam penanggalan Jawa, pasar ular akan dibuka. Jangan membayangkan seperti pasar pada umumnya. Pasar ini tak memiliki kios atau los bahkan tak ada papan nama. Pasar ini sekadar tempat pemburu dan pembeli ular bertransaksi.

Lokasinya berada di selatan Sub Terminal Ngadirojo, Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri. Pasar tanpa sekat ini sebetulnya bisa dijangkau dengan berjalan kaki sekitar 100 meter dari kantor Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri. Di sana, sepetak lahan kecil milik warga di dekat jembatan menjadi tempat berkumpul.

Pagi itu, Darmolam, 60, baru saja tiba dari rumahnya di Masaran, Sragen dengan naik bus. Ia selama ini dikenal sebagai pengepul ular. Tepat pukul 8.30 WIB, kedatangannya disambut beberapa penjual ular yang sedari tadi menunggu. Mereka rata-rata mantan pemburu ular. Di dekat mereka ada sejumlah kantong terikat rapat yang berisi ular bandotan macan atau akrab disebut macanan dan ular sowo kembang atau piton yang ditaksir panjangnya lebih dari tiga meter dengan berat 11 kilogram.

Setelah menghabiskan sebatang rokok, Darmolam, mulai membuka kantong-kantong berisi ular itu. Ia memindahkan ular ke kantong yang ia bawa dibantu salah satu pemburu. Tak ada kesulitan saat ia memindahkan ular macanan. Sebaliknya, saat memeriksa ular sowo kembang, ia harus mengikat terlebih dahulu mulutnya kuat-kuat. Gigitan ular piton bisa membikin cedera serius kendati tak mengakibatkan kematian.

Kepada Marno, 55, salah satu penjual ular, Darmolam menuturkan dua ekor ular yang ia bawa harganya Rp50.000. Sebab, ular macanan yang berukuran kecil hanya dihargai Rp10.000, sisanya Rp40.000. Tak ada tawar menawar berarti dalam transaksi. Pria asal Jati Gading, Ngadirojo Lor, itu menerima harga yang ditawarkan Darmolam.

Ular yang dibawa Marno bukan hasil buruan. Ular itu masuk ke dalam rumah dan sedang mengincar burung peliharaannya dua hari yang lalu. Ia lalu menangkap dan berniat menjualnya. “Belakangan rumah sering kedatangan ular,” keluh pria yang mengaku 15 tahun terakhir tak memburu ular.

Pemburu lain, Marto Waluyo, 55, asal Jendi, Girimarto. Ia masih aktif berburu ular kendati tak selalu mujur. Ia bisa pulang dengan lima ekor ular tangkapan atau kadang harus dengan tangan hampa. Kariernya sebagai pemburu ular bermula saat ia pergi ke hutan mencari kayu bakar. Tiba-tiba seekor ular macanan berukuran satu lengan orang dewasa melewatinya. Antara girang dan gemetar, ia bingung bagaimana menangkap ular itu. Ia nekat mengejar ular itu hingga ke lubangnya. Perjuangan yang cukup berat hingga akhirnya ia bisa menaklukan ular itu hidup-hidup.

“Ular itu saya jual laku Rp1.500 pada 1987. Kalau sekarang ular jenis itu harganya murah,” ujar dia. Pekerjaannya sebagai pemburu ular membuat dirinya dijuluki Marto Ulo.

Sejarah Pasar Ular

Harga ular memang sedang turun. Ular macanan sebelumnya bisa sampai Rp100.000 per ekor turun menjadi Rp40.000 per ekor. Ular piton yang sebelumnya seharga Rp300.000 untuk panjang minimal tiga meter, turun menjadi Rp100.000 per ekor.

Ular berbisa jenis kobra justru memiliki harga paling murah. Kobra ukuran besar hanya dihargai Rp12.000-Rp15.000 per ekor. Harga yang murah menjadi sebuah pesan agar masyarakat agar tak memburu ular berbisa secara sembrono. Sebab, kesalahan sedikit saja memburu ular ini bisa berakibat fatal.

“Kalau menangkapnya sembrono kan bisa meninggal dunia. Saya tegur. Jangan sembrono. Kalau bisa jangan diburu,” ujar pria yang mengaku sudah 20 tahun berjualan di pasar itu.

Pasar ular itu pun terbentuk secara alamiah. Awalnya, Darmolam melihat banyak ular yang ditangkap saat petani bekerja di sawah. Ia berpesan kepada kawan-kawan sesama petani agar ular itu dikumpulkan. Ia sanggup membeli ular-ular itu. Petani pun menjual ular itu ke rumah Darmolam di Masaran, Sragen.

Karena dirasa terlalu jauh, ia menyarankan agar berkumpul saja di dekat Pasar Ngadirojo, seperti lokasi yang saat ini ada. Waktunya disepakati setiap pasaran Pon. “Lama-lama di sini hafal kalau setiap Pon bertemu di sini. Kalau 20 tahunan mungkin ada saya di sini,” ujar dia.

Sekitar sejam kemudian, Darmolam selesai mengemasi semua ular yang dibelinya. Ia sunggi kantong plastik berisi penuh ular itu menuju Sub Terminal Ngadirojo. Ia segera pulang ke Masaran. Pada pasaran Pon berikutnya ia akan kembali lagi ke sana.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
unik, ular, Features

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top