Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ajarkan Bahaya Radikalisme, Ganjar Gandeng eks-Teroris Bom Bali

Ribuan peserta sarasehan Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan terbengong ketika salah satu narasumber menyebut dirimya terlibat dalam kasus Bom Bali I. Sang narasumber pun membeberkan kisahnya bergabung dengan Noordin M. Top di hadapan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 12 Februari 2020  |  14:35 WIB
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kiri) berbincang dengan Jack Harun, eks-napiter Bom Bali I di acara dialog/sarasehan penguatan nilai-nilai kebangsaan bagi Kepala Sekolah, Guru Agama, ROHIS, Pelajar SMA, SMK, MA Negeri dan Swasta di eks-Karesidenan Surakarta di SMK Negeri 8 Surakarta, Rabu (12/2/2020). - Istimewa
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kiri) berbincang dengan Jack Harun, eks-napiter Bom Bali I di acara dialog/sarasehan penguatan nilai-nilai kebangsaan bagi Kepala Sekolah, Guru Agama, ROHIS, Pelajar SMA, SMK, MA Negeri dan Swasta di eks-Karesidenan Surakarta di SMK Negeri 8 Surakarta, Rabu (12/2/2020). - Istimewa

Bisnis.com, SURAKARTA - Ribuan peserta sarasehan Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan terbengong ketika salah satu narasumber menyebut dirimya terlibat dalam kasus Bom Bali I. Sang narasumber pun membeberkan kisahnya bergabung dengan Noordin M. Top di hadapan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Peristiwa itu berlangsung di SMKN 8 Surakarta, Rabu (12/2/2020), dalam sarasehan yang diikuti kepala sekolah, guru, siswa dan rohis se-eks Keresidenan Surakarta. Ada beberapa tokoh yang jadi pembicara, mulai dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gus Miftah, hingga eks-narapidana teroris (eks napiter) Jack Harun. 

Mendapat giliran pertama, Ganjar memilih cara dialog interaktif. Berbagai persoalan kebangsaan dia sampaikan kepada hadirin. Sampai akhirnya Ganjar menyinggung soal bahaya radikalisme dan terorisme. Untuk melengkapi materinya, Ganjar mengundang sosok yang terlibat langsung dalam aksi terorisme. 

Namanya Joko Triharmanto alias Jack Harun. Selama bergabung dengan jaringan Noordin M. Top dia bertugas merakit bom, salah satunya untuk aksi Bom Bali I pada 12 Oktober 2002. Kepada Jack Harun, Ganjar minta dia mengisahkan awal mula terlibat dalam jaringan teroris tersebut. 

"Ketika itu saya hanya melihat berita dan video dari kepingan VCD tentang pembantaian kepada Muslim di Ambon dan tempat lain akhirnya saya bertekad untuk membalas dendam dan akhirnya ikut terlibat di pengeboman Bali yang pertama," kata Jack. 

Ternyata panasnya jeruji besi secara perlahan melunakkan pemikiran Jack Harun. Meski sempat menolak ideologi Pancasila, Jack mengatakan setelah menerima wejangan kedua orang tua dan mendengar tangisan istrinya, hatinya benar-benar luluh. Sampai akhirnya dia merasa sangat bersalah kepada para korban, dan berikrar kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. 

"Untuk generasi muda, kita perlu banyak belajar dan mengambil guru yang tepat. Kepada guru saya pesan, ada beberapa anak muda yang dianggap nakal, jangan dikucilkan dan diasingkan. Pengalaman saya, mereka yang di-bully akan bertambah menjadi nakal. Komunikasi yang utama," kata Jack. 

Ganjar pun mengamini perkataan Jack Harun dan menyebut pentingnya mencari guru yang tepat serta tidak menelan mentah-mentah informasi yang diterima. 

"Teknologi informasi penting dan bagus, tapi harus hati-hati. Mungkin tidak benar, mungkin itu sebuah propaganda. Kalian bisa dipengaruhi oleh siapa pun, maka carilah guru yang benar dan baik," kata Ganjar seperti dikutip dalam siaran persnya.

Republik ini, lanjut Ganjar, lahir tidak begitu saja. Melalui perjuangan dan diskusi panjang yang melibatkan banyak pihak dan berbeda-beda. Menurutnya narasi yang menolak perbedaan mesti dilawan. 

"Karena tadi ada contoh, eks-napiter bercerita langsung. Dengan menghadirkan pelaku ini semoga memberi pencerahan kepada anak-anak kenapa bisa terjadi seperti itu, dan dari mana pintu masuknya. Serta bagaimana mencegahnya. Yuk kita ciptakan kerukunan. Tantangan kita lebih besar," kata Ganjar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ganjar pranowo radikalisme
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top