Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investasi Industri ke Kudus Banyak Terkendala Lahan

Beberapa ribu hektare lahan pertanian di Kabupaten Kudus belakangan telah dibangun banyak bangunan permanen.
Alif Nazzala R.
Alif Nazzala R. - Bisnis.com 24 Juli 2020  |  06:06 WIB
Ilustrasi. - Antara/Mohamad Hamzah
Ilustrasi. - Antara/Mohamad Hamzah

Bisnis.com, KUDUS - Pemerintah Kabupaten Kudus, terus berupaya melakukan pencegahan alih fungsi lahan pertanian.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kudus, Hartopo, mengatakan lahan pertanian sebenarnya punya peran penting dalam mencegah ketergantungan masyarakat Kudus terhadap produk pangan impor.

"Kalau saya sendiri lahan pertanian penting. Karena kita perlu tanaman untuk menahan banjir dan bencana-bencana lain. Di samping itu produktivitas pertanian kalau bisa dari masyarakat sendiri. Agar tidak terlalu banyak impor," kata Hartopo melalui siaran persnya, Kamis (23/7/2020).

Menurut Hartopo, lahan pertanian di Kudus saat ini sejatinya berjumlah 57 persen dari keseluruhan luas wilayah kota kretek itu yang mencapai 42.500 hektar. Namun, beberapa ribu hektare lahan pertanian di Kabupaten Kudus belakangan telah dibangun banyak bangunan permanen.

"Lahan pertanian kita 20.000 hektare. Tapi, realnya 17.000. Jadi masih gantung 3.000 hektare. Lahan ditempati bangunan tapi tanpa IMB (izin mendirikan bangunan). Kita harus banyak kontrol, soalnya kadang-kadang ada sawah tiba-tiba dibangun bangunan. Tiba-tiba ada dua lantai dan tiga lantai. Mau dibongkar, jadi masalah," ujarnya.

Meski memiliki lahan pertanian yang cukup luas, Hartopo mengatakan sektor pertanian di Kudus sulit berkembang. Sebab, masyarakat Kudus kurang pandai berinovasi dalam mengolah lahan pertanian.

"Memang harus ada lahan pertanian. Cuma masyarakat kita selalu monoton, jadi inovasinya kurang. Ngambil buruh tani harian saja susah dan sudah mahal. Makanya lahan pertanian banyak untuk kavlingan dan investor," jelas Hartopo.

Di sisi lain, Hartopo mengatakan Kudus merupakan daerah di Jateng yang banyak dilirik investor. Kata Hartopo, banyak investor yang terpaksa ditolak menanamkan modal mereka di Kudus karena terkendala masalah lahan.

"Kudus banyak incaran dari investor. Itu banyak sekali. Karena lahan dibatasi, investor banyak yang mundur," ujarnya.

Padahal, kata Hartopo, dari sisi ekonomi, sebenarnya sektor industri lebih menjanjikan ketimbang sektor pertanian. Sebab, sektor industri bisa dengan cepat menyerap banyak tenaga kerja di Kudus.

"Antara lahan pertanian dengan investor untuk bisa menampung tenaga kerja itu lebih menguntungkan investor. Kita mengalir saja kalau disuruh memilih bagaimana memakmurkan masyarakat memang banyak industri, investor," katanya. (k28)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng kudus
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top