Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asa DIY Menjaring Cuan Laut Selatan

Mangkrak sejak 2014 lalu, breakwater Pelabuhan Tanjung Adikarto kini dilaporkan telah tertutup sedimentasi pasir.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 17 Maret 2021  |  14:53 WIB
Nelayan menjala ikan di kawasan pelabuhan perikanan Tanjung Adikarto, Karangwuni, Wates, Kulonprogo, Kamis (19/10/2017). - JIBI/Desi Suryanto
Nelayan menjala ikan di kawasan pelabuhan perikanan Tanjung Adikarto, Karangwuni, Wates, Kulonprogo, Kamis (19/10/2017). - JIBI/Desi Suryanto

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Kunjungan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, ke Yogyakarta pada pekan lalu menjadi penanda babak baru pengembangan Pelabuhan Tanjung Adikarto.

Sebelumnya, pada 4 Maret 2021, Luhut sempat berkomunikasi dengan Gubernur DIY melalui video conference. Proyek Pelabuhan Tanjung Adikarto sempat disebut-sebut, bersama dengan beberapa proyek lain seperti Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS), Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) Regional, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, serta beberapa rencana pengembangan beberapa kawasan strategis lainnya.

Pak Luhur mengambil inisiatif untuk melakukan pertemuan bersama yang juga diikuti Bupati / Wali Kota untuk meminta data dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan infrastruktur maupun green infrastructure, baik untuk proyek yang dibangun oleh daerah maupun yang dibangun melalui dana APBN,” ungkap Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada saat itu.

Pelabuhan Tanjung Adikarto sebetulnya adalah proyek lama Pemerintah Provinsi DIY. Pengerjaannya sudah dimulai sejak tahun 2005, sedangkan wacana pengembangan wilayah selatan DIY sendiri sudah jauh lebih dulu mengemuka.

Pada tahun 2017, proyek ini kembali muncul ke permukaan. Pemicunya adalah SK Gubernur DIY No.163/KEP/2017 juga visi Gubernur DIY tahun 2017 – 2022 dengan fokus pengembangan wilayah pesisir. Pemerintah Provinsi DIY sendiri memproyeksikan Tanjung Adikarto sebagai sentra perikanan laut dengan orientasi ekspor.

Proyek Pelabuhan Tanjung Adikarto, menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY, membutuhkan dana Rp447 miliar untuk merampungkan tahap konstruksi pelabuhan. Porsi anggaran tersebesar akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur pemecah gelombang. Sementara itu, periode konsesi diestimasikan akan berlangsung selama 30 tahun.

Belum siapnya infrastruktur pemecah gelombang jadi penyebab utama mangkraknya proyek ini. Pasalnya, pemecah gelombang ini berperan penting untuk memudahkan kapal yang nantinya akan masuk ke dermaga. Apabila telah beroperasi secara penuh, Pelabuhan Tanjung Adikarto diproyeksikan mampu menampung 400 kapal berukuran hingga 150 Gross Tonnage (GT).

Pelabuhan ini digadang-gadang mampu meningkatkan kapasitas produksi perikanan laut di DIY. Tak tanggung-tanggung, berdasarkan perhitungan Dinas Perikanan dan Kelautan DIY, Pelabuhan Tanjung Adikarto diperkirakan bakal meningkatkan volume produksi perikanan tangkap hingga dua kali lipat.

Potensi hasil tangkapan ikan dari pelabuhan ini bakal mencapai 27.400 ton per tahun, atau sekitar Rp276 milyar per tahun. Padahal, volume perikanan tangkap di DIY sepanjang tahun 2014-2018 berkisar di angka 5.000 – 6.000 ton, dengan volume terbesar di angka 6.815 ton pada tahun 2017.

Nelayan menjala ikan di kawasan pelabuhan perikanan Tanjung Adikarto, Karangwuni, Wates, Kulonprogo, Kamis (19/10/2017)./JIBI-Desi Suryanto

Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, Prof. Ir. Nur Yuwono, Dip.H.E., Ph.D, mengungkapkan bahwa meskipun menyimpan sejumlah potensi ekonomi, proyek Pelabuhan Tanjung Adikarto tetap menyimpan sejumlah tantangan. “Ini proyek besar, karena kita memilih tempat yang pada posisi tidak mudah,” jelasnya, Rabu (17/3/2021).

Nur menjelaskan bahwa posisi Tanjung Adikarto yang berhadapan langsung dengan laut terbuka membuat lokasi pelabuhan tersebut rawan akan gelombang besar. Tak hanya itu, karakter pantai yang berpasir juga meningkatkan rIsiko sedimentasi. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur pemecah gelombang menjadi prioritas karena berperan vital pada operasional pelabuhan.

Pemecah gelombangnya itu biayanya luar biasa, mungkin kalau melihat di Kali Bogowonto, itu sampai Rp800 milIar. Kalau membuat bangunannya yang ada di dalam pelabuhan itu mungkin murah. Kalau pemecah gelombang itu mahal sekali, batunya saja satu bijinya 18-20 ton,” ungkapnya.

DIY sendiri menyimpan beberapa lokasi alternatif yang bisa dijadikan pelabuhan perikanan. Meskipun demikian, berdasarkan Perda DIY No.5/2019 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DIY tahun 2019 - 2039, secara spesifik telah ditegaskan bahwa hanya ada satu pelabuhan perikanan di DIY, yaitu Pelabuhan Perikanan Pantai Tanjung Adikarto, sedangkan beberapa sentra perikanan tangkap seperti di Gunungkidul ataupun Bantul hanyalah berupa pangkalan pendaratan ikan.

Berbeda dengan Sadeng, kalau itu kan dia terhadap gangguan pasir kan tidak besar. hampir tidak ada. dia berada di teluk. Jadi relatif mudah. Hanya kalau Sadeng itu jauh dari Jogja, jauh dari jalan raya yang besar. kalau Adikarto kan dekat dengan bandara,” ungkapnya.

Terlepas dari segala konsekuensi tersebut, Nur mengungkapkan bahwa pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto masih sangat memungkinkan untuk dilakukan. Meskipun demikian, diperlukan ketelitian dan kehati-hatian bahkan sejak tahapan perencanaan. Terlebih dengan pernyataan Luhut yang menyebutkan bahwa diperlukan waktu tiga bulan untuk melakukan studi awal terkait kelanjutan proyek tersebut.

“Tergantung sampai dimana dia itu kajiannya, sesungguhnya kalau itu hanya kajian terkait mau diperpanjang berapa itu saya kira bisa, tapi untuk detail desain yang nanti perlu data tambahan itu waktunya mepet sekali,” jelas Nur.

Tenggat waktu tersebut bisa tercapai apabila studi awal yang dimaksud Luhut merujuk pada pengolahan data yang sudah ada. Bukan merujuk pada perencanaan pembangunan pelabuhan secara keseluruhan.

Kalau kita hanya mendasarkan kepada data sekunder, tiga bulan langsung ya itu bisa. Tetapi nanti, ada catatannya, pada waktu pelaksanaannya mungkin ada adjustment karena datanya kita tidak mengukur baru. Padahal pekerjaan itu sudah dibangun cukup lama, datanya berbeda,” tambahnya.

Kapasitas produksi perikanan tangkap di DIY pada tahun 2014 – 2018

Tahun

Volume (ton)

2014

6.996,9

2015

5.559,9

2016

5.001,2

2017

6.815,0

2018

6.494,8

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY

 

Jadi Harapan 

Pelabuhan Tanjung Adikarto berada di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP NRI) 573. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, wilayah tersebut memiliki potensi tangkapan lestari sebanyak 500.000 ton atau Rp10 triliun per tahun.

“Ini (Pelabuhan Tanjung Adikarto) harusnya menjadi pusat ekonomi perikanan yang bagus, karena sebelahnya ada bandara internasional. Kalau misal ini kita perbaiki dengan baik dan dibelakangnya nanti ada industri perikanan, maka ekonomi di sini akan bergerak,” jelas Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, ketika mengunjungi Kulonprogo pada pekan lalu (12/3/2021).

Wakil Bupati Kulon Progo, Fajar Gegana, dalam keterangan resminya menyebut bahwa kunjungan Luhut memantik harapan baru bagi pengembangan kawasan pelabuhan tersebut. Pasalnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DIY, nilai produksi perikanan laut yang dijual di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kulon Progo pada tahun 2019 mencapai Rp2,4 milIar. Tentunya, apabila telah beroperasi secara penuh, Pelabuhan Tanjung Adikarto akan berpotensi mendongkrak nilai produksi tersebut.

Ketika aktif, harapannya bisa segera bermanfaat bagi masyarakat. Dari segi nelayan mungkin bisa dijadikan tempat pengemasan ikan nantinya. Kemudian, dalam waktu dekat, apabila dioperasikan, kapal-kapal kecil mungkin bisa mendarat dan dropping logistik,” ungkapnya.

Potensi perikanan tangkap di DIY pada tahun 2018

Jenis Potensi

Jumlah / Kapasitas

Satuan

Jumlah nelayan

3.126

jiwa

Rumah tangga nelayan

2.285

RTP

Jumlah perahu

Perahu motor tempel

423

unit

 

Perahu 5 – 10 GT

9

unit

 

Perahu 10 – 30 GT

29

unit

 

Perahu

7

unit

 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perikanan kulon progo diy Luhut Pandjaitan Tanjung Adikarto
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top