Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CJIBF 2021: Tarik Investasi, Bank Indonesia Dorong Penggunaan Mata Uang Lokal

BI telah bekerja sama dengan 4 negara dalam hal penggunaan transaksi menggunakan mata uang lokal (local currency settlement/LCS) yakni Thailand, Malaysia, Jepang dan China. 
Farodlilah Muqoddam
Farodlilah Muqoddam - Bisnis.com 10 November 2021  |  19:12 WIB
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Bisnis - Himawan L Nugraha
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, SEMARANG — Bank Indonesia mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan antar negara dan investasi asing yang masuk ke Indonesia, khususnya ke Jawa Tengah. 

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan bahwa BI telah bekerja sama dengan 4 negara dalam hal penggunaan transaksi menggunakan mata uang lokal (local currency settlement/LCS) yakni Thailand, Malaysia, Jepang dan China. 

“Transaksi perdagangan dan investasi bisa menggunakan settlement mata uang lokal masing-masing, ini untuk menguragi ketergantungan terhadap dolar AS,” ujarnya saat menghadiri pembukaan Central Java Investment Forum (CJIBF) 2021, Rabu (11/11/2021). 

Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi dengan negara mitra, menurut Destry, bisa mengurangi gejolak nilai tukar akibat fluktuasi dolar AS. Stabilitas nilai tukar merupakan salah satu faktor yang turut menentukan minat berinvestasi ke Indonesia. 

Destry melanjutkan bahwa salah satu syarat yang ditetapkan oleh investor asing untuk menanamkan investasi ke suatu negara adalah stabilitas makroekonomi, yang tecermin dari inflasi yang terkendali dan stabilitas nilai tukar. 

“Di sinilah peran BI menjaga stabilitas ekonomi makro. BI terus berkomitmen untuk mengeluarkan kebijakan akomodatif untuk memberikan kemudahan dalam iklim investasi,” lanjutnya. 

Secara umum, Destry menilai langkah-langkah yang sudah ditempuh oleh pemerintah untuk mendukung perbaikan iklim investasi sudah mulai membuahkan hasil. Mengutip data World Bank, saat ini peringkat kemudahan berbisnis (ease of dong business) Indonesia sudah berada di peringkat 73, membaik dibandingkan dengan posisi pada lima tahun lalu di peringkat 106. 

Kemudahan berbisnis, yang pada akhirnya akan menarik investasi, perlu terus ditingkatkan karena investasi merupakan salah satu tulang punggung untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. 

Di tingkat regional Jawa Tengah, lanjut Destry, pertumbuhan ekonomi banyak ditopang oleh investasi. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu terus mengoptimalkan berbagai strategi untuk menarik investasi. 

“Kuartal III/2021 pertumbuhan ekonomi Jateng itu banyak didukung oleh investasi, yang berkontribusi 32% terhadap PDRB. Ke depan bisa terus diakselerasi, apalagi ada Kawasan Industri Terpadu Batang yang jadi peluang besar untuk Jateng,” ujarnya. 

Pemerintah Provinsi Jateng berupaya terus meningkatkan aliran investasi asing maupun domestik. Salah satu strategi yang dilakukan adalah menyelenggarakan agenda rutin untuk mempertemukan calon investor dalam Central Java Investment Business Forum (CJIBF). 

CJIBF 2021 digelar pada 10—11 November 2021 secara hybrid, dengan mengambil tema Rebuilding Agri-Industries for Economic Acceleration, yang menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu faktor untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah.

Peserta yang mendaftar acara ini berjumlah total 265 orang yang berasal dari 10 negara yakni Amerika Serikat, China, Singapura, Taiwan, Australia, Jepang, Korea Selatan, Jerman, India, Spanyol, dan Indonesia.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia CJIBF
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top