Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sektor Pertanian Jateng Masih Menjanjikan

Efisiensi jalur pemasaran juga bakal dilakukan dengan membentuk kelompok ekonomi petani, temu usaha, serta menjalin kemitraan antara petani dengan eksportir.
Petani menyiangi rumput di sela-sela tanaman bawang merah di kawasan pertanian Food Estate lereng gunung Sindoro Desa Bansari, Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (18/11/2021)./Antara-Anis Efizudin
Petani menyiangi rumput di sela-sela tanaman bawang merah di kawasan pertanian Food Estate lereng gunung Sindoro Desa Bansari, Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (18/11/2021)./Antara-Anis Efizudin

Bisnis.com, SEMARANG - Jawa Tengah bakal menerapkan konsep pertanian pintar atau smart farming pada tahun mendatang. Melalui sistem pertanian yang memanfaatkan teknologi informasi dan digital tersebut, diharapkan petani-petani di Jawa Tengah bisa meningkatkan efisiensi kerja serta nilai ekonomi dari produk-produk pertanian yang dihasilkan.

"Kita akan dorong pengembangan konsep pertanian cerdas, konsep ini merujuk pada penerapan teknologi informasi pada bidang pertanian. Tujuannya untuk melakukan optimalisasi peningkatan hasil, baik secara kualitas dan kuantitas, serta efisiensi penggunaan sumber daya yang ada," jelas Sumarno, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Selasa (28/12/2021).

Dalam diskusi 'Outlook Perekonomian Jawa Tengah 2022' yang digelar Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno berharap agar penggunaan teknologi serta peralatan pertanian berbasis digital bisa memaksimalkan pekerjaan petani di Jawa Tengah. Harapannya, berbagai kemudahan tersebut bisa memudahkan pekerjaan di ladang ataupun di luar ladang.

"Dalam proses pekerjaan on farm, aplikasi digital digunakan untuk mengontrol tanaman secara jarak jauh, sehingga pengawasan tanaman dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun. Secara off farm, aplikasi digital juga dapat digunakan dalam proses pemasaran, penelusuran rantai distribusi, dengan harapan hasilnya akan jadi lebih baik," jelas Sumarno.

Untuk meningkatkan kinerja sektor pertanian di Jawa Tengah, Sumarno menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bakal berupaya untuk merevitalisasi sektor usaha tersebut. "Seperti perluasan areal tanam, penanaman di lahan baru, dan penerbitan sertifikasi indikasi geografis," jelasnya.

Efisiensi jalur pemasaran juga bakal dilakukan dengan membentuk kelompok ekonomi petani, temu usaha, serta menjalin kemitraan antara petani dengan eksportir. "Selain itu, melakukan pendampingan kualitas mutu dan keaslian pertanian, peningkatan konsumsi domestik melalui pameran, pengembangan inovasi produk, serta memberikan bantuan alat pasca panen juga akan kita tingkatkan di tahun depan," tambah Sumarno.

Sebelumnya, pada November 2021 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan 0,32 persen dibanding bulan sebelumnya. Pada November 2021, NTP tercatat berada di posisi 101,34 persen. Sementara itu, pada bulan Oktober 2021, angkanya berada di 101,67 persen.

Dari lima sub-sektor usaha pertanian, NTP sub-sektor hortikultura dan perikanan mengalami penurunan masing-masing 4,96 persen dan 1,06 persen pada bulan November 2021. Sementara itu, sub-sektor tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan mengalami kenaikan tipis di angka 0,61 persen, 0,80 persen, dan 0,52 persen.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper