Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Urban Farming Jadi Upaya Peningkatan Ketahanan Pangan Kota Semarang

Sebanyak 89 persen kebutuhan pangan di Kota Semarang berasal dari luar daerah.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 01 Februari 2022  |  11:07 WIB
Ilustrasi. - Bisnis/Noli Hendra.
Ilustrasi. - Bisnis/Noli Hendra.

Bisnis.com, SEMARANG - Luas lahan pertanian di Kota Semarang belum mampu memenuhi kebutuhan pangan warga di wilayah tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah, luas panen padi di Kota Semarang pada periode 2018-2020 mengalami penurunan. Pada 2018, luas panen padi di wilayah tersebut mencapai 4.962,87 hektare (ha), menyusut jadi 4.207,74 ha pada tahun berikutnya, dan tersisa 4.165,43 ha pada 2020.

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, menjelaskan bahwa upaya peningkatan pemenuhan kebutuhan pangan terganjal oleh terbatasnya lahan pertanian yang tersedia. "Kalau kita bicara produksi total, sebenarnya dengan luasan 23 kilometer persegi itu kita hanya mampu mencukupi 11 persen kebutuhan pangan masyarakat Kota Semarang, bisa dibayangkan," jelasnya, Senin (31/1/2022).

Dalam sebuah diskusi yang digelar Pemerintah Kota Semarang secara virtual, Hernowo untuk menyiasati hal tersebut, pihaknya bakal terus menggencarkan kampanye pertanian perkotaan atau urban farming di Kota Semarang.

"Harapan kita adalah pengembangan urban farming itu bisa menopang dan mendorong ketahanan pangan dari keluarga. Karena kalau dari kebutuhan pangan, setidaknya sayuran, berbagai bumbu, kemudian tanaman buah itu bisa dipenuhi atau dihasilkan oleh produk rumah tangga masing-masing, kiranya itu bisa membantu. Setidaknya bisa mengurangi ketergantungan kita terhadap daerah sekeliling kita [sebagai pemasok]," jelas Hernowo.

Hernowo menambahkan, kegiatan pertanian perkotaan tersebut merupakan respons dari kebijakan pertanian yang dilaksanakan secara terpusat. Dimana sasaran program pertanian kebanyakan masih menyentuh kelompok tani tradisional yang memiliki lahan pertanian. Sementara, di Kota Semarang, persoalan yang muncul justru sebaliknya. Minimnya ketersediaan lahan ikut memengaruhi jumlah kelompok tani yang ada.

Selain meningkatkan pasokan pangan di Kota Semarang, konsep pertanian perkotaan sendiri menyimpan sejumlah kelebihan. Selain menghemat biaya pengeluaran keluarga, dengan bertani di rumah masyarakat bisa menjalankan gaya hidup sehat secara sekaligus.

"Masyarakat itu mulai menuntut dirinya untuk hidup sehat. Termasuk konsumsi makanan sehat. Nah, bagian dari kita memberdayakan masyarakat itu adalah dengan menciptakan pola hidup makanan sehat dari produk tanaman yang kita hasilkan sendiri, jadi budaya makan sehat ini juga kita kembangkan," jelas Hernowo.

Terkait ketahanan pangan, sebelumnya Wakil Wali Kota Semarang sempat mengajak masyarakat untuk mulai menanam padi di rumah dengan menggunakan pot. Hevearita Gunaryanti Rahayu, Wakil Wali Kota Semarang, bahkan telah empat kali memanen hasil padi yang ditanamnya sendiri di rumah.

"Saya ingin mengajarkan kepada anak-anak kita, junior-junior, atau generasi yang akan datang. Bahwa menanam padi ini tidak harus turun ke sawah. Jadi menanam padi itu bisa di dalam pot," ucap Hevearita pada pekan lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertanian semarang
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top