Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penyakit Mulut dan Kuku di Sukoharjo Menjangkiti 379 Ekor Ternak

Pedagang hewan ternak wajib mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) saat mengirim hewan ternak ke wilayah Sukoharjo.
R Bony Eko Wicaksono
R Bony Eko Wicaksono - Bisnis.com 14 Juni 2022  |  08:46 WIB
Sejumlah sapi yang akan dikirim ke pulau Kalimantan berada di atas kapal di Pelabuhan Wani di Desa Wani, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Minggu (12/6/2022). - Antara/Mohamad Hamzah
Sejumlah sapi yang akan dikirim ke pulau Kalimantan berada di atas kapal di Pelabuhan Wani di Desa Wani, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Minggu (12/6/2022). - Antara/Mohamad Hamzah

Bisnis.com, SUKOHARJO – Dinas Pertanian dan Perikanan (DPP) Sukoharjo mencatat jumlah hewan ternak yang terjangkiti virus penyakit mulut dan kaki atau PMK kian bertambah hingga menjadi sebanyak 379 ekor per 12 Juni 2022.

“Ratusan ekor ternak dalam kondisi sakit [PMK]. Sekarang masih dalam proses pengobatan dan isolasi untuk mencegah transmisi penularan virus ke ternak lainnya. Namun, ada juga yang sembuh sebanyak 36 ekor,” kata Kepala Bidang (Kabid) Peternakan DPP Sukoharjo, Arif Rahmanto, saat dihubungi JIBI, Senin (13/6/2022).

Arif menyampaikan Pasar Hewan Bekonang di Kecamatan Mojolaban masih ditutup sebagai langkah strategis pengendalian PMK di Sukoharjo. Hal ini berimbas pada berkurangnya lalu lintas ternak yang masuk ke Sukoharjo.

Dia menegaskan pedagang hewan ternak wajib mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) saat mengirim hewan ternak ke wilayah Sukoharjo. Pemerintah tak mau berspekulasi dalam pengendalian virus PMK menjelang Iduladha 2022.

“Jika tak membawa SKKH maka harus pulang ke daerah asal. SKKH menjadi syarat utama hewan ternak masuk ke wilayah Sukoharjo. Di daerah lain juga menerapkan kebijakan serupa,” ujar dia.

Petugas kesehatan hewan, kata dia, mengintensifkan kegiatan edukasi dan informasi pencegahan penularan virus PMK. Target sasarannya adalah pengurus takmir masjid dan panitia hari besar Islam (PHBI). Mereka diedukasi agar memeriksa kondisi kesehatan hewan kurban sebelum disembelih saat Iduladha.

Lebih lanjut, menurut dia, peran serta stakeholder dioptimalkan guna mencegah meluasnya persebaran virus PMK pada hewan ternak menjelang Iduladha. “Kemarin, kami menggelar sosialisasi pencegahan PMK di masjid-masjid di wilayah Weru. Sekarang giliran wilayah Kartasura. Kegiatan ini dilakukan di setiap kecamatan,” papar dia.

Pada bagian lain, para pedagang sapi di Sukoharjo pasrah tak bisa berjualan karena penutupan pasar hewan di Sukoharjo diperpanjang demi menekan persebaran PMK.

Penjual sapi asal Jatirejo, Mulur, Bendosari, Sukoharjo, Wakidi, 47, saat berbincang dengan JIBI, Kamis (9/6/2022), menyebut saat ini pihaknya tidak melakukan penjualan hewan ternak dan memilih berhenti sementara waktu. “Pertama ya pasrah, kedua ya melakukan karantina ternak agar tidak ada kontak dengan hewan ternak lain,” kata

Ditanya terkait alternatif cara lain seperti penjualan melalui media sosial pihaknya menyebut tidak dalam kapasitas untuk melakukan itu.

“Kalau penjualan online lha barang hidup juga susah, tidak bisa. Ya sekarang ini mandek dulu di rumah sampai sudah boleh jualan,” kata pria yang akrab di sapa Mudin itu.

Dia berharap karantina ternak dilakukan serentak di seluruh daerah. Menurutnya jika satu wilayah dibuka dan daerah lain ditutup ataupun sebaliknya tidak akan mempercepat pemutusan rantai PMK. Dia menyebut saat ini hanya bisa menyesuaikan kondisi dan peraturan yang telah ditetapkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

daging sapi sapi pemkab sukoharjo Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top