Jateng Mengklaim Tidak Memerlukan Jagung Impor

Oleh: Alif Nazzala Rizqi 07 November 2018 | 14:21 WIB
Jateng Mengklaim Tidak Memerlukan Jagung Impor
Pekerja memindahkan jagung ke atas kapal untuk diekspor, di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (23/3/2018)./JIBI-Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengklaim kebutuhan jagung di wilayah setempat bisa dipenuhi dari produksi sendiri, tidak perlu pasokan dari impor.

Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jawa Tengah mengungkapkan produksi Jagung mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pasalnya, dari data yang didapatkan produksi jagung Jateng pada 2017 mencapai 3,5 juta ton.

Kepala Distanbun Jateng Yuni Astuti mengatakan, kebutuhan jagung di Jawa Tengah mencapai 2 juta ton. Angka tersebut dari total seluruh kebutuhan jagung baik untuk industri pakan ternak maupun dan peternak ayam mandiri.

"Produksi jagung di Jateng cukup melimpah, dari data terakhir yang diperoleh produksi jagung capai 3,5 juta ton, padahal kebutuhan hanya 2 juta ton sehingga Jateng alami suplus jagung sampai 1,5 juta ton," kata Yuni saat dihubungi melalui telepon, Rabu (7/11/2018).

Yuni menjelaskan, jagung dari Jateng juga dikirimkan ke sejumlah daerah seperti Jabar. Oleh karenanya Jawa Tengah tidak memerlukan jagung impor.

"Terkait impor jagung saya rasa Jateng tidak memerlukannya karena masih surplus. Meski begitu, saya tidak bisa menjamin apakah jagung impor ada yang masuk ke Jateng karena kewengannya ada di pusat," tuturnya.

Meski pasokan jagung di Jateng mencukupi, pasar komoditas ini diwarnai persaingan perebutan jagung antara pabrikan pakan dan peternak ayam sehingga membuat bahan utama campuran pakan ini semakin mahal.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional Jawa Tengah Suwardi dalam berita Bisnis (2/10/2018) mengatakan produksi telur ayam di Jateng mencapai 1.200 ton per hari. Sementara itu, kebutuhan jagung mencapai 1.450 ton per hari dengan total populasi ayam petelur mencapai 29,5 juta ekor.

"Sementara di lapangan harga jagung naik faktor utamanya di Jawa tidak ada panen raya. Hanya 60% di semester 1 dan 35-40% semester 2 karena kemarau panjang," kata Suwardi kepada Bisnis, Selasa (2/10/2018).

Meski harga jagung tinggi, harga telur saat normal Rp19.000 - 20.000 per kilogram hanya bisa dijual Rp18.000 per kilogramnya.

Rencana pemerintah mengimpor jagung 100.000 ton sedianya untuk pemenuhan pakan ternak dan bagian stabilisasi harga.

Adapun, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) produksi dan pasokan jagung secara nasional tahun 2018 sudah surplus sebesar 12 juta ton Pipilan Kering (PK). Selama 3 tahun ini Indonesia sudah menstop impor jagung yang biasanya 3,5 juta ton pertahun, setara menyelamatkan Devisa Rp10 triliun, bahkan di 2018 saja, sampai Oktober, Indonesia sudah mengekspor 370.000 ton jagung ke negara tetangga.

Sementara itu, perhitungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyimpulkan realisasi luas tanam bulan Juni-September 2018 mencapai seluas 1.318.284 hektare, dengan perkiraan panen bulan September-Desember seluas 1.263.170 hektare. Dari perhitungan tersebut, diprakirakan produksi yang dihasilkan sebesar 7,18 juta ton PK.

Dari sisi konsumsi, diperkirakan pada bulan tersebut kebutuhannya mencapai 5,13 juta ton Pipilan Kering (PK) yang terdiri untuk konsumsi langsung, industri pakan, peternak layer, industri pangan lainnya dan produksi benih. Artinya masih ada surplus 2,05 juta ton PK di periode bulan September-Desember. Kondisi tersebut menunjukkan suplai jagung dalam negeri akan tetap aman sampai akhir tahun.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer