Kawasan Green Canyon Socokangsi Kehilangan Pamor

Oleh: Taufik Sidik Prakoso 09 November 2018 | 09:24 WIB
Kawasan Green Canyon Socokangsi Kehilangan Pamor
Kondisi bendungan di alur Sungai Kali Gethuk di kawasan objek wisata Green Canyon, Desa Socokangsi, Kecamatan Jatinom, Klaten, Kamis (8/11/2018). Lokasi tersebut kerap dijadikan lokasi foto bagi para pengunjung./JIBI-Taufik S.

Bisnis.com, KLATEN – Kawasan objek wisata Green Canyon Socokangsi di Desa Socokangsi, Kecamatan Jatinom mangkrak. Pemerintah desa setempat menyiapkan master plan guna mengembangkan kembali objek wisata tersebut.

Green Canyon ala Socongkasi terbentuk di aliran Sungai Gethuk. Sungai diapit tebing tinggi yang dipenuhi lumut. Di tepi tebing sungai tepatnya di Dukuh Socokulon terdapat kawasan yang digarap untuk menjadi akses masuk menuju lokasi yang dilengkapi gapura berbahan bambu.

Di tempat itu, terdapat sejumlah fasilitas seperti kamar mandi, kolam renang, serta gazebo untuk musala. Berdasarkan pantauan JIBI, kondisi kawasan tersebut kumuh. Kolam renang mengering serta kotor. Lapak-lapak pedagang berbahan bambu ditutupi terpal dibiarkan rusak. Sampah menghiasi alur sungai.

Sekretaris Desa Socokangsi, Suprandono, mengatakan pengembangan objek wisata Green Canyon berawal dari para pemuda desa setempat termasuk Suprandono yang mengunggah foto kawasan Green Canyon ke media sosial. Dari foto itu, warga dari berbagai daerah berdatangan.

Hingga pada 2017 lalu, kawasan tersebut mulai dikembangkan termasuk kawasan Gua Jepang di tepi Sunga Gethuk wilayah Dukuh Socowetan. Gelontoran dana dari APB desa sekitar Rp90 juta dimanfaatkan salah satunya untuk pembangunan kolam renang serta penambahan fasilitas umum. Untuk menuju kawasan objek wisata tersebut, pengunjung hanya dikenakan tarif parkir. Namun, sekitar lima bulan terakhir, kawasan objek wisata tersebut mangkrak.

Suprandono menjelaskan penyebab objek wisata mangkrak beragam. Salah satunya lantaran tak ada warga yang meneruskan pengelolaan objek wisata. Hal itu menyusul belasan pemuda yang selama ini menggarap objek wisata itu merantau lantaran harus bekerja atau meneruskan pendidikan.

“Dari 15 orang karang taruna itu hampir semuanya merantau. Yang masih di kampung itu paling lima orang,” kata Suprandono saat ditemui JIBI di kantor Desa Socokangsi, Kamis (8/11/2018).

Meski mangrak, ia mengatakan masih ada warga yang berdatangan ke kawasan Green Canyon. Kondisi itu biasa terjadi saban akhir pekan. Terkait penataan kembali kawasan objek wisata itu, Suprandono mengatakan pemerintah desa berencana membuat master plan terkait pengembangan desa wisata di Socongkasi.

Kepala Desa Socokangsi, Wingsang Trenggono, mengatakan pendekatan ke warga terus dilakukan untuk kembali menggeliatkan wisata di Socokangsi.

“Pernah ada pendampingan dari salah satu perguruan tinggi, berapapun banyaknya dana yang digelontorkan tetapi kalau warga belum merasa memiliki ya tidak akan maksimal. Makanya, kami terus mencoba mendekati warga agar kesadaran itu terbentuk. Sebenarnya warga tidak masalah bersama-sama mengelola wisata untuk meningkatkan ekonomi warga sekitar juga,” ungkapnya.

Wingsang menuturkan master plan pengembangan wisata di Desa Socongkangsi segera dibikin. Tak hanya Green Canyon, master plan tersebut mencakup seluruh pengembangan wisata termasuk Gua Jepang serta potensi-potensi bangunan bekas peninggalan pabrik cokelat di desa setempat. Sementara, anggaran untuk pengembangan itu digelontorkan bertahap.

“Karena masih ada infrastruktur yang perlu mendapat prioritas anggaran. Namun, untuk wisata tetap kami garap secara bertahap,” katanya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya