Isu Jalan Tol Kian Santer, Begini Harga Tanah di Klaten

Harga tanah di sejumlah daerah yang diproyeksikan terdampak pembangunan jalan tol Solo-Jogja dinilai masih stabil.
Ponco Suseno
Ponco Suseno - Bisnis.com 27 Juli 2019  |  10:25 WIB
Isu Jalan Tol Kian Santer, Begini Harga Tanah di Klaten
Pengendara sepeda motor melintas di kawasan Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Jumat (26/7/2019). Sesuai rencana, lahan di Ngawen menjadi salah satu lahan terdampak pembangunan jalan tol Solo-Jogja. - JIBI/Ponco Suseno

Bisnis.com, KLATEN – Harga tanah di sejumlah daerah yang diproyeksikan terdampak pembangunan jalan tol Solo-Jogja dinilai masih stabil. 

Kepala Desa (Kades) Ngawen, Kecamatan Ngawen, Shofik Ujiyanto, mengatakan pembangunan jalan tol Solo-Jogja diproyeksikan melintasi kawasan Ngawen. Luas lahan terdampak pembangunan jalan tol berada di Dukuh Ngawen kurang lebih dua hektare. Informasi tersebut diperoleh dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) RI sekitar satu bulan lalu.

“Kami sudah didatangi tujuh orang dari KemenPUPR RI. Intinya, diberitahu Dukuh Ngawen dilintasi jalan tol. Bahkan, ada kemungkinan dijadikan lokasi exit tol juga [masih tentatif]. Meski isu jalan tol sudah santer, warga di sini masih adem ayem. Soalnya yang akan dilintasi di sini hanya dua hektare,” katanya, saat ditemui wartawan di Ngawen, Jumat (26/7/2019).

Shofik Ujiyanto mengatakan harga tanah di kawasan Ngawen masih stabil hingga sekarang. Harga tanah di pinggir Jl. Klaten-Ngawen senilai Rp800.000-Rp1 juta per meter persegi.

“Belum ada kenaikan harga tanah secara signifikan. Tapi enggak tahu juga jika tim dari KemenPUPR RI datang lagi ke sini [harga tanah sangat dimungkinkan naik]. Intinya, masyarakat di sini mendukung dengan pembangunan jalan tol. Jika jadi dijadikan exit tol, kawasan di sini menjadi lebih ramai lagi. Sehingga dapat mendorong munculnya produk khas dari Ngawen. Warga di sini sebagian besar jadi bakul di pasar,” katanya.

Hal senada dijelaskan Kades Glagahwangi, Kecamatan Polanharjo, Atit Novitasari. Lahan yang akan dilintasi jalan tol Solo-Jogja di daerahnya sektar 14,2 hektare.

“Harga tanah di sini masih stabil, yakni Rp500.000-Rp700.000 per meter persegi,” katanya.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengaku sudah menyampaikan berbagai usulan ke tim perencana KemenPUPR RI di Semarang beberapa waktu lalu. Salah satu usulan yang belum disetujui tim perencana, yakni permintaan penambahan pintu keluar tol di Kapungan, Polanharjo.

“Dari berbagai usulan, yang belum disetujui hanya permintaan kaki di exit tol Kapungan, Polanharjo. Harapan kami, di Kapungan itu ada pintu keluar menuju Jl. Solo-Jogja dan arah Jatinom. Yang menuju Solo-Jogja sesuai rencana dari awal. Sedangkan, arah ke Jatinom menjadi usulan kami. Dengan penambahan itu agar aksesnya lebih mudah [menuju ke objek wisata air, seperti di Ponggok dan kawasan industri, seperti di Jatinom],” katanya.

Pada kesempatan itu, Sri Mulyani juga menjelaskan belum ada pergerakan harga tanah di lahan terdampak jalan tol Solo-Jogja. Sebagian besar harga tanah di lahan terdampak jalan tol masih stabil.

“Setahu saya belum ada [kenaikan harga tanah secara signifikan]. Bagi kami, masyarakat yang penting memperoleh ganti untung [saat pembebasan lahan]. Kami pun juga akan mengawasi ke lapangan guna memastikan tak ada broker tanah yang ingin mengambil keuntungan,” katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun JIBI, terdapat tiga exit tol yang diproyeksikan berada di Klaten. Masing-masing berada di Kapungan (Polanharjo), Ngawen, dan Borangan (Manisrenggo). Di samping itu, terdapat rest area di Karangnongko dan Ngawen.

“Kalau di lokasi kami tidak dilintasi jalan tol. Tapi hanya kejatah pelebaran jalan [Klaten Utara-Ngawen] untuk mendukung exit tol di Ngawen,” kata Camat Klaten Utara, Marjana.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tol solo-yogyakarta

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top