Magnet Baru Ekonomi di Kawasan Pantura Jateng

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Soekowardojo mengatakan bahwa kawasan industri yang terintegrasi akan menarik investor menanamkan modal. Di wilayah pantura, telah tersedia jaringan jalan tol dan akses yang dekat menuju pelabuhan.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  05:17 WIB
Magnet Baru Ekonomi di Kawasan Pantura Jateng
Ilustrasi - Gerbang tol Ngemplak, Ruas Solo--Ngawi. - Bisnis/Antara/Aris Wasita

Bisnis.com, SEMARANG – Bank Indonesia mengusulkan dibentuknya sejumlah kawasan industri baru untuk memacu pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah. Kawasan jalur pantai utara (pantura) masih menjadi magnet bagi investor karena faktor kesiapan infrastruktur, terutama jalur transportasi dan logistik.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Soekowardojo mengatakan bahwa kawasan industri yang terintegrasi akan menarik investor menanamkan modal. Di wilayah pantura, telah tersedia jaringan jalan tol dan akses yang dekat menuju pelabuhan.

Menurut Soeko, panggilan akrabnya, kawasan pantura bagian barat yang membentang dari Brebes hingga Semarang, serta kawasan Jateng bagian tengah yang terakses oleh jalan tol yakni Solo dan sekitarnya, memiliki kapasitas untuk mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berupa kawasan industri.

Selain didukung oleh infrastruktur, kawasan ini juga memiliki daya dukung lingkungan serta sumber air yang mencukupi untuk kebutuhan tersebut.

“Wilayah di Jawa Tengah yang potensial dibentuk kawasan industri baru terbentang dari jalur pantura bagian barat lalu turun ke Solo dan sekitarnya, mengikuti jalur tol,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Kamis (8/8/2019).

Sementara itu, wilayah pantura Jawa Tengah bagian timur yakni Demak, Kudus, Pati, hingga Rembang, dinilai perlu memetakan potensi ekonomi lain selain industri karena meskipun dari sisi infrastruktur cukup memadai namun daya dukung lingkungan yakni sumber air yang terbatas dinilai kurang mampu mencukupi kebutuhan industri.

Posisi wilayah tersebut sebagai lumbung padi di Jateng juga menjadi pertimbangan lain agar tidak saling bertentangan dengan rencana pengembangan kawasan industri.

Di sisi lain, lanjut Soeko, kawasan Jateng bagian tengah dan selatan yang tidak terakses oleh jalan tol juga dinilai tidak perlu memaksakan diri untuk membuka kawasan industri. Selain faktor dukungan infrastruktur yang belum cukup untuk mewadahi kebutuhan industri, potensi daerah tersebut juga dinilai lebih cocok untuk mengembangkan industri pariwisata.

“Tidak semua wilayah di Jateng harus didirikan kawasan industri. Kita lihat untung dan ruginya terlebih dahulu. Saya rasa Jateng bagian selatan seperti daerah Purwokerto, Magelang, Wonosobo lebih cocok untuk pengembangan wisatanya,” ujarnya.

Agar dapat memberikan dampak optimal terhadap pertumbuhan ekonomi, menurut Soeko, pengembangan kawasan industri di Jateng dapat diarahkan agar memperkuat industri yang telah tumbuh dan berkembang di wilayah ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah, kontribusi industri pengolahan terhadap pertumbuhan ekonomi Jateng per kuartal II/2019 mencapai 34,11%. Industri pengolahan juga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi yakni sebesar 1,25%.

“Di Jateng, industri tekstil berkembang dengan baik sekali. Dengan demikian, investasi baru yang masuk berikut dengan pengembangan kawasan industrinya bisa diarahkan agar menopang industri yang sudah ada karena ekosistemnya sudah terbentuk,” katanya.

INVESTASI RUSIA

Dalam perkembangan lain, BI mengapresiasi delegasi Jawa Tengah yang mencatatkan sepuluh perjanjian kerja sama investasi dan dagang dalam Indonesia-Rusia Business Forum di Moscow, Rusia, pekan lalu. Kerja sama ditandai dengan penandatanganan MoU antara pengusaha Jateng dan Rusia di Ritz Carlton Hotel Moscow, Kamis (1/8) lalu.

“Kemarin waktu pameran di Moscow saya rasa Jateng cukup berhasil dengan penandatanganan 10 perjanjian kerja sama,” tuturnya.

Untuk kerja sama dagang, Rusia sepakat akan impor berbagai produk. Di antaranya produk kapsul jamu senilai US$5 juta produk karagenan dan jelly US$55.000 sanerta produk mebel US$1 juta. Rusia juga memesan produk gula merah organik senilai total US$100.000 dan produk kerajinan bambu senilai US$6.000.

Forum bisnis ini merupakan rangkaian Festival Indonesia Moscow yang digelar setiap tahun. Pameran produk dan kebudayan ini menyedot 1.000 pengunjung dan pengusaha Rusia. (K28)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jateng

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top