Wimboh : Revolusi Digital Patahkan Teori Ekonomi

Revolusi digital membuat ilmu ekonomi dan keuangan konvensional menjadi kurang relevan, sehingga dinamika kebijakan dan kondisi pasar berubah lebih cepat.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  13:55 WIB
Wimboh : Revolusi Digital Patahkan Teori Ekonomi
Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memberikan sambutan saat pembukan perdagangan 2019 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (2/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, SOLO—Revolusi digital membuat ilmu ekonomi dan keuangan konvensional menjadi kurang relevan, sehingga dinamika kebijakan dan kondisi pasar berubah lebih cepat.

“Dalam membuat prediksi ekonomi, kita menggunakan model teori ekonomi tahun 90-an. Namun itu menjadi kurang relevan, karena pasar modal dan mata uang lebih menunggu komentar Donald Trump saat itu juga,” tutur Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso.

Wimboh menyampaikan pidatonya pada Senin (26/8/2019) saat pengukuhannya sebagai Guru Besar tidak tetap bidang ilmu Manajemen Risiko pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Dalam acara tersebut, Wimboh menyampaikan pidato dengan judul “Revolusi Digital: “New Paradigm” di Bidang Ekonomi dan Keuangan” yang menjelaskan gambaran perlunya pendekatan baru dalam melihat proyeksi ekonomi di era kemajuan teknologi yang sangat pesat.

Menurutnya, dibutuhkan pendekatan baru bagi pemerintah dan otoritas keuangan yang lebih dinamis dan kontekstual agar manfaatnya dapat optimal. Pendekatan baru berbasis teknologi juga dapat memitigasi risiko dengan baik.

“Adopsi teknologi dalam pendekatan pengaturan dan pengawasan industri jasa keuangan menjadi suatu keharusan,” katanya.

Otoritas sektor keuangan menurutnya, membutuhkan pendekatan pengawasan yang lebih transparan, berbasis teknologi dan berbasis data.

Supervisory Technology (SupTech) yang saat ini sedang dikembangkan akan meningkatkan efisiensi proses pengawasan melalui penggunaan otomasi dan penyederhanaan alur kerja.

SupTech juga dapat memungkinkan pengawasan dan monitoring risiko serta pelaporan yang lebih baik terhadap industri jasa keuangan dan fintech dengan mendigitalkan data dan memungkinkan penggunaan kekuatan algoritma komputer untuk menjalankan pengawasan.

Wimboh menyampaikan, teknologi telah merevolusi gaya hidup masyarakat yang mengakibatkan terjadinya pergeseran di tatanan ekonomi dan landscape sektor jasa keuangan. Ini akan menimbulkan distorsi dalam masa transisinya.

“Di satu sisi, kehadiran teknologi ini diharapkan menjadi solusi bagi peningkatan daya saing ekonomi dan terbukanya akses keuangan masyarakat, namun di sisi lainnya menimbulkan potensi risiko teknologi yang besar sehingga diperlukan pendekatan baru dalam melihat proyeksi ekonomi dan potensi risikonya terhadap stabilitas sistem keuangan serta perlindungan konsumen,” paparnya.

Revolusi digital saat ini menyebabkan berbagai perubahan fundamental di sektor jasa keuangan melalui inovasi berbasis teknologi seperti aktivitas pembayaran, pembiayaan, investasi, perencanaan keuangan dan bidang keuangan lainnya.

Revolusi itu telah berkembang secara masif di seluruh dunia seiring dengan penetrasi internet dan smartphone, termasuk munculnya financial technology atau fintech.

Di industri perbankan, transformasi digital terjadi tidak hanya untuk tujuan efisiensi, tetapi juga karena tuntutan masyarakat yang menghendaki proses transaksi perbankan yang semakin mudah, cepat dan efisien.

Transformasi digital telah mengubah aktivitas perbankan dalam bentuk pembayaran maupun transfer dana secara online, serta aktivitas lain seperti pembukaan rekening bank yang dapat dilakukan dengan aplikasi digital banking, tanpa harus secara fisik datang ke kantor bank.

Di sektor pasar modal, banyak perusahaan sekuritas maupun manajer investasi saat ini telah melakukan investasi di bidang teknologi informasi yang memudahkan nasabahnya untuk melakukan transaksi.

Jual beli saham sudah jamak dilakukan secara online melalui platform online trading yang disediakan perusahaan sekuritas.

Demikian juga investasi dalam bentuk reksadana atau produk manajer investasi lainnya telah banyak dilakukan hanya melalui internet, tanpa mendatangi atau bertemu muka dengan perwakilan manajer investasi.

Ke depan, seiring dengan berkembangnya artificial intelligence, jasa advisory berpotensi untuk dilakukan oleh robot advisor, menggantikan peran para analis. Di luar lembaga jasa keuangan konvensional di pasar modal, saat ini sudah berkembang pula marketplace untuk produk-produk pasar modal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wimboh santoso

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top