Pertumbuhan Ekonomi Jateng 2019 Diprediksi Lampaui 2018

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada 2019 diperkirakan melampaui level 5,4 persen year on year (yoy) dibandingkan 2018 sebesar 5,32 persen.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 07 November 2019  |  17:47 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Jateng 2019 Diprediksi Lampaui 2018
Candi Borobudur di Magelang merupakan salah satu destinasi utama pariwisata yang menopang pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. - Antara/Andreas Fitri Atmoko

Bisnis.com, SEMARANG—Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada 2019 diperkirakan melampaui level 5,4 persen year on year (yoy) dibandingkan 2018 sebesar 5,32 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jateng pada kuartal III/2019 mencapai 5,66 persen. Angka itu cenderung bertumbuh dari kuartal II/2019 sebesar 5,56%.

Pertumbuhan PDRB Jateng sempat melemah pada kuartal I/2019 sebesar 5,15% dibandingkan dengan kuartal IV/2018 yang mencapai 5,28%. Sepanjang 9 bulan pertama 2019, pertumbuhan ekonomi Jateng pun mencapai 5,46 persen.

Ekonom Universitas Katolik Soegijapranata Andreas Lako menyampaikan pertumbuhan ekonomi Jateng kian berkualitas karena adanya kenaikan investasi dan ekspor. Dampak ekonomi pun lebih terasa bagi masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi ini sesuai prediksi. Sampai akhir 2019 diperkirakan melampaui batas 5,4 persen, atau lebih tinggi dibandingkan 2018,” ujarnya kepada Bisnis di Semarang pada Kamis (7/11/2019).

Adapun, kontribusi konsumsi rumah tangga yang menurun merupakan hal wajar di tengah tren kebutuhan berbiaya rendah, misalnya biaya transportasi makin terjangkau seiring dengan kehadiran layanan online dan bus rapid transit (BRT).

 “Justru biaya rendah ini nantinya mendorong ke produktivitas yang lebih tinggi,” tambahnya.

Atas dasar harga berlaku, nilai PDRB Jateng pada kuartal III/2019 mencapai Rp351,48 triliun. Pengeluaran konsumsi rumah tangga masih berkontribusi paling besar, yakni 59,09% atau Rp207,69 triliun.

Selanjutnya, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi langsung  sejumlah 33,77% atau Rp118,68 triliun, serta ekspor barang dan jasa 42,95% atau Rp150,96 triliun.

Namun, kinerja neraca perdagangan memberatkan laju PDRB, karena impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang mencapai 45,17% atau Rp158,77 triliun. Lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jateng Soekowardojo, menyampaikan sebagai perwakilan bank sentral di daerah, BI  membantu sumber-sumber pertumbuhan berkualitas yang berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat.

Selain industri manufaktur unggulan, sumber potensial lainnya dalam memacu perekonomian adalah pariwisata. BI membantu program prioritas pemerintah dalam mengembangkan destinasi utama seperti kawasan Candi Borobudur, kawasan Dieng, dan Kepulauan Karimun Jawa.

“Pengembangan pariwisata akan mendorong investasi, tenaga kerja, industri terkait lainnya. Adanya devisa juga dapat memperbaiki neraca jasa,” ujarnya.

Selain itu, untuk memperbaiki struktur negara perdagangan, Jateng diharapkan dapat mengendalikan impor dengan mendorong investasi industri hulu untuk TPT, serta subtitusi impor untuk industri makanan dan minuman (mamin).

Pada 2019, BI memprediksi ekonomi Jateng bertumbuh 5,3 persen—5,7 persen. Optimisme peningkatan ini didorong oleh membaiknya konsumsi swasta dan konsumsi pemerintah.

Namun demikian, ekspor luar negeri diperkirakan tumbuh relatif terbatas, karena terjadi perlambatan volume perdagangan dunia akibat pertumbuhan ekonomi global yang melandai.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Jateng pada 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi, jawa tengah

Editor : M. Syahran W. Lubis
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top