LPEI Tumbuhkan Semangat Ekspor kepada Mahasiswa

Lembaga Pembiayan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank (IEB) melakukan edukasi ekspor dalam kegiatan IEB Goes to Campus di Universitas Diponegoro, Semarang, pada Senin (11/11/2019).
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 12 November 2019  |  05:54 WIB
LPEI Tumbuhkan Semangat Ekspor kepada Mahasiswa
Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly (kedua kiri), bersama dengan Kepala Bagian Tata Usaha Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro Moh. Asrifan (ketiga kiri), Pemilik Kopi Giras Tarmudi (kiri), dan moderator Pemimpin Redaksi Harian Bisnis Indonesia Hery Trianto, berfoto bersama setelah talkshow dalam acara IEB Goes to Campus di Kampus Undip, Semarang, pada Senin (11/11 - 2019).

Bisnis.com, SEMARANG - Lembaga Pembiayan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank (IEB) melakukan edukasi ekspor dalam kegiatan IEB Goes to Campus di Universitas Diponegoro, Semarang, pada Senin (11/11/2019).

Acara bertajuk Share & Aware About Export ini bertujuan agar para audiens yang terdiri dari mahasiswa dan pelaku usaha, mendapatkan informasi mengenai kegiatan ekspor.

Sinthya Roesly, Direktur Eksekutif LPEI, menyampaikan kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan mengenai peran dan fungsi LPEI dalam mendukung ekspor nasional. Faktanya, aktivitas ekspor merupakan sesuatu yang mudah untuk dilakukan oleh siapa saja.

“Ekspor merupakan sesuatu yang mudah dan dapat dilakukan siapa saja. Asal punya keinginan kuat, semangat, dan kreaitivitas dalam menciptakan produk bernilai tambah,” tuturnya.

Menurut Sinthya, sangat penting membangun perhatian terhadap sektor ekspor sejak dini. Presiden Joko Widodo berkali-kali mengingatkan investasi dan ekspor menjadi pilar yang mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kunci untuk mendukung kedua pilar itu ialah keberadaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Dalam misi Indonesia Emas pada 2045 atau 100 tahun kemerdekaan, generasi muda yang saat ini masih berstatus mahasiswa, nantinya akan menjadi kunci pertumbuhan ekonomi nasional.

Oleh karena itu, LPEI memiliki tanggung jawab menyediakan sarana, membangun kemampuan, dan menumbuhkan spirit kepada mahasiwa, agar ikut berkontribusi dalam mata rantai ekspor nasional.

“Kami ingin menggugah dan mengundang agar SDM unggul dibangun sejak dini, untuk bersinergi menumbuhkan ekspor, dan menciptakan Indonesia lebih baik ke depannya,” paparnya.

Manfaat pengembangan ekspor di antanya ialah mengalirkan devisa ke dalam negeri, menumbuhkan lapangan kerja, dan membangun citra Indonesia sebagai pemain bisnis global dunia.

Sinthya menambahkan, dalam acara IEB Goes to Campus, pihaknya juga melakukan open house untuk mengundang kepada mahasiwa Undip yang ingin bergabung mengembangkan ekspor bersama LPEI.

“Kami juga ingin mengundang talenta-talenta terbaik Undip untuk berkontribusi terhadap negara dengan bergabung bersama LPEI,” imbuhnya.

Kegiatan IEB Goes to Campus merupakan sinergi bersama antara Indonesia Eximbank dan University Network for Indonesia Export Development (UNIED). UNIED merupakan jaringan 11 Perguruan Tinggi Negeri sebagai wadah untuk pengembangan ekspor dalam hal network of knowledge, enabler, dan fasilitator.

Rektor Undip sekaligus Chairman UNIED Yos Johan Utama, menyampaikan kegiatan ekspor merupakan kedaulatan dan kebanggaaan sebagai suatu bangsa. Artinya, produk-produk dari Indonesia dibutuhkan dan memiliki keunggulan, dibandingkan produk dari negara lain.

“Ekspor itu pride suatu bangsa, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan dan membantu perekonomian nasional,” paparnya.

Dalam era disrupsi digitalisasi, penting untuk berpikir out off the box dan memiliki orientasi tinggi untuk menjadi eksportir. Spirit ini dapat dibangun salah satunya melalui kerja sama edukasi antara perguruan tinggi dengan LPEI.

Pelaku eksportir dengan merek Kopi Giras yang juga mitra LPEI, Tarmudi, merupakan salah satu UMKM yang berhasil melakukan penjualan ke luar negeri hingga 40 ton kopi olahan per bulan.

Tarmudi menceritakan awalnya pada 2018 dirinya mengikuti pelatihan ekspor di LPEI, dan melakukan pengiriman perdana ke Jepang. Saat ini, produknya tersebar di sekitar 10 negara berbeda.

Menurutnya, kunci sukses menjadi eksportir ialah memegang Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) awal. PEB inilah yang menjadi batu loncatan sekaligus rekam jejak untuk masuk ke pasar-pasar negara selanjutnya.  

“Kami juga memelajari karakter pasar dan competitor yang sudah ada di negara tujuan. Bila produknya serupa, maka kami bisa tawarkan di harga yang lebih murah,” ungkapnya.

Selain itu, penetrasi ekspor dilakukan untuk produk bernilai tambah atau kopi yang sudah dipanggang, karena margin keuntungan lebih tinggi. Sebagai perbandingan, produk roasting bisa dijual Rp75.000 per kg, sedangkan dalam bentuk biji hanya Rp25.000 per kg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indonesia eximbank, undip

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top