Genjot Ekspor, Jateng Operasikan FTA Center Maret 2020

Kementerian Perdagangan akan mengoperasikan pusat informasi perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) Center di Jawa Tengah pada Maret 2020, sehingga dapat semakin memacu ekspor.
Terminal Peti Kemas Semarang/Pelindo III
Terminal Peti Kemas Semarang/Pelindo III

Bisnis.com, SEMARANG—Kementerian Perdagangan akan mengoperasikan pusat informasi perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) Center di Jawa Tengah pada Maret 2020, sehingga dapat semakin memacu ekspor.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah Arif Sambodo menyebutkan, pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan akan mengoperasikan FTA Center pada 2020.

“Upaya ini merupakan salah satu cara meningkatkan ekspor Jateng, khususnya di sektor non migas. FTA Center menjadi sumber informasi, pelatihan, dan hub untuk berhubungan dengan pemerintah pusat terkait kendala-kendala ekspor,” tuturnya, Rabu (27/11/2019).

Berdasarkan data Kemendag, FTA Center memiliki tiga tujuan utama, yaitu meningkatkan kemudahan dan fasilitasi perdagangan ke luar negeri, meningkatkan pemanfaatan skema kerja sama perdagangan internasional, serta mendorong para pengusaha untuk ekspor dan mencetak para eksportir baru.

Sebelumnya, FTA Center yang beroperasi sejak Mei 2018 hanya berlokasi di 5 kota, yakni di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar.

Menurut Arif, FTA Center nantinya berlokasi di Semarang, tepatnya di Kantor Disperindag Jateng. FTA Center akan memfasilitasi seluruh kebutuhan ekspor, mulai dari informasi, pelatihan, pendampingan, perizinan, dan sebagainya.

Seluruh pelayanan tersebut tidak dipungut biaya. Dengan adanya pendampingan secara intensif, diharapkan kinerja ekspor Jateng semakin meningkat ke depannya.

Sepanjang Januari—September 2019, ekspor non migas Jateng meningkat 2,01 persen year on year (yoy) menjadi US$6.172,13 juta dari sebelumnya US$6.050,76 juta.

Pada 2019, panduan ekspor non migas berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)  mencapai US$6.303 juta. Menurut Arif, angka tersebut dapat terlewati, karena per September 2019 sudah mencapai 97,92 persen dari target.

Bahkan, nilai ekspor non migas pada 2019 diperkirakan tumbuh melewati 2018 sebesar US$8.091,62 juta.

“Januari—September 2019, pencapaian ekspor sudah 97,92 persen dari target dan mencakup 76,28 persen dari realisasi 2018. Masih ada 3 bulan lagi, sehingga kami optimistis kinerja ekspor tahun ini lebih baik dari target RKPD, bahkan pencapaian 2018,” paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Hafiyyan
Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper