Inflasi Jateng Hanya 0,09 Persen 

Bank Indonesia mencatat pada Januari 2020 Jawa Tengah mengalami inflasi sebesar 0,09 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi Desember sebesar 0,45% (mtm).
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 06 Februari 2020  |  04:07 WIB
Inflasi Jateng Hanya 0,09 Persen 
Ilustrasi

Bisnis.com, SEMARANG - Provinsi Jawa Tengah mengalami inflasi sebesar 0,09 persen (month to month/mtm) pada Januari 2020, angka itu lebih rendah dibandingkan dengan posisi Desember 2019 sebesar 0,45% (mtm).

Inflasi yang terkendali tersebut telah sejalan dengan perkiraan Bank Indonesia sebelumnya. Dengan perkembangan ini, inflasi tahunan Jawa Tengah mencapai 2,81 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional yang tercatat 2,68 persen (yoy).

Kepala Grup Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng Iss Savitri Hafid menuturkan rendahnya inflasi di Jawa Tengah pada bulan pertama 2020 didorong terkendalinya kenaikan harga pangan disertai penurunan harga beberapa kebutuhan sekunder. 

"Kelompok komoditas penyumbang terbesar terhadap inflasi Januari 2020 yaitu kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mencatatkan inflasi sebesar 1,64 persen (mtm). Di sisi lain, dua kelompok inflasi besar lainnya yaitu Pendidikan dan Transportasi mengalami deflasi masing-masing sebesar 3,78 persen (mtm) dan 1,12 persen (mtm)," kata Iss melalui siaran pers, diterima Rabu (5/2/2020).

Dia menjelaskan, peningkatan harga pada komoditas yang tergabung dalam kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, terutama terjadi pada jenis bumbu-bumbuan.

Komoditas cabai merah, cabai rawit, dan bawang putih mengalami keterbatasan pasokan sehingga menyumbang inflasi tertinggi dibanding komoditas lainnya. 

"Proses penanaman dengan curah hujan yang minim membuat panen pada Januari 2020 tidak seoptimal tahun-tahun sebelumnya. Belum lagi curah hujan tinggi menyebabkan hasil produksi lebih cepat membusuk. Selain bumbu-bumbuan, komoditas beras juga mengalami keterbatasan produksi yang disebabkan panen raya belum banyak terjadi pada Januari 2020," ujarnya.

Selain itu, kenaikan inflasi pada komoditas lainnya yaitu minyak goreng lebih disebabkan kebijakan pelarangan penjualan minyak goreng curah.

Mulai Januari 2020, seluruh komoditas minyak goreng diwajibkan untuk menggunakan kemasan yang semakin menambah biaya produksi.

"Kelompok Pendidikan menjadi salah satu kelompok penahan laju inflasi pada Januari 2020. Inflasi kelompok Pendidikan terpantau sebesar -3,78% (mtm) yang terjadi didorong penurunan harga pada komoditas Sekolah Menengah Atas," tuturnya.

Menurut Iss, hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah membebaskan biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) bagi pelajar SMA/SMK Negeri, berlaku sejak Januari 2020.

Kelompok lainnya yang mengalami penurunan harga lanjut Iss, yaitu Transportasi yang mencatatkan inflasi pada Januari 2020 sebesar -1,12 persen (mtm). Penurunan harga tidak hanya terjadi pada subkelompok Jasa Angkutan Penumpang, akan tetapi juga terjadi pada subkelompok Pengoperasian Peralatan Transportasi Pribadi. 

"Pada subkelompok Jasa Angkutan Penumpang, penurunan harga terjadi pada beberapa tarif angkutan yaitu tarif kereta api (-8,89 persen, mtm), tarif angkutan udara (-4,71 persen, mtm), tarif kendaraan roda 4 online (-12,24 persen, mtm), tarif taksi (-5,98 persen, mtm), dan angkutan antarkota (-4,71 persen, mtm)," terangnya.

Dia menambahkan, normalisasi permintaan menjadi penyebab utama penyedia jasa angkutan menurunkan harga ke harga sebelum masa liburan akhir tahun. Dari subkelompok Pengoperasian Peralatan Transportasi Pribadi, penurunan harga terjadi pada komoditas bensin dan solar. Penurunan harga pada kedua komoditas tersebut disebabkan penyesuaian harga pada bahan bakar nonsubsidi.

Meski realisasi inflasi relatif rendah di awal tahun, peningkatan harga pangan masih terjadi. Kelangkaan pasokan harus diatasi melalui penggunaan teknologi untuk peningkatan produktivitas disertai kerja sama perdagangan antardaerah. 

"Kunci pengendalian inflasi (ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif) harus selalu dilaksanakan oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga inflasi Jawa Tengah tetap berada pada kisaran inflasi 3,0 persen±1 persen di tahun 2020," kata Iss.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
inflasi jateng

Editor : Saeno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top