Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BI Jawa Tengah Antisipasi Ancaman Inflasi pada Momen Ramadan dan Idulfitri

Meskipun tengah mengalami deflasi, namun tren kenaikan harga secara musiman diproyeksikan bakal memberikan tekanan terhadap peningkatan inflasi Jawa Tengah.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra, memberikan paparan dalam acara Media Update yang digelar di Kota Semarang beberapa waktu lalu. / Ist-KPw BI Jateng
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra, memberikan paparan dalam acara Media Update yang digelar di Kota Semarang beberapa waktu lalu. / Ist-KPw BI Jateng

Bisnis.com, SEMARANG - Hingga Februari 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Jawa Tengah masih mengalami kondisi deflasi sebesar 0,78% (month-to-month/mtm) dan 0,08% (year-on-year/yoy).

Meskipun data terakhir menunjukkan deflasi, namun masih ada potensi kenaikan harga bahan pokok yang disebabkan oleh tren musiman pada momen Ramadan dan Idulfitri.

Rahmat Dwisaputra, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah, mengungkapkan bahwa BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah telah melakukan sejumlah upaya untuk mengantisipasi potensi inflasi pada momen hari besar keagamaan tersebut.

"Melalui High Level Meeting (HLM) dan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) TPID yang diselenggarakan pada 12 Februari 2025, disepakati pelaksanaan program pengendalian inflasi selama periode Ramadan antara lain Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak, peningkatan pengawasan stok pasokan komoditas pangan, hingga upaya jangka panjang yaitu perluasan replikasi program Simanis (Sinergi Inflasi Semakin Harmonis)," kata Rahmat Dwisaputra dikutip Rabu (26/3/2025).

Kepada wartawan, Rahmat menyampaikan bahwa pada 20 Maret 2025 telah dilaksanakan GPM Serentak di 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Melalui program tersebut, masyarakat bisa menikmati subsidi harga pangan sebanyak 130.05 ton beras, 20.486 liter minyak goreng, 16,85 ton telur ayam ras, 11,03 ton gula pasir, 3,83 ton daging ayam ras, 4,22 ton aneka cabai, serta 4,80 ton bawang merah.

"Peran dari TPID menjadi penting terutama untuk memantau alur distribusi dan peningkatan permintaan untuk beberapa barang menjelang momentum Ramadhan dan HBKN Idul Fitri. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu dipastikan ketersediaan atau pasokan atas permintaan komoditas yang meningkat ini tercukupi dan harga kebutuhan tetap terjaga," tutur Rahmat.

Sebagai bagian dari tugas BI, Rahmat juga menuturkan bahwa pihaknya ikut memastikan kelancaran transaksi tunai maupun nontunai di wilayah Jawa Tengah.

BI membuka layanan penukaran Uang Layak Edar (ULE) melalui program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri atau SERAMBI yang dilaksanakan sebanyak 335 kali di beberapa titik di Kota Semarang.

Selain itu, BI juga menggelar edukasi dan sosialisasi penggunaan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) di masjid-masjid.

"Untuk mendukung kelancaran arus mudik BI Jateng juga turut memastikan kelancaran pembayaran nontunai pada gerbang tol pada periode mudik lebaran 2025, antara lain di ruas Tol Semarang ABC, Tol Semarang-Solo, Tol Semarang-Demak, dan Tol Semarang-Batang," katanya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper