Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspor Tekstil Jateng Melemah, Tak Lagi Jadi Andalan?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah yang dikutip Kamis (2/3/2020) menunjukkan ekspor produk-produk TPT pada Februari 2020 cenderung melemah dibandingkan dengan Januari 2020. Ekspor pakaian jadi bukan rajutan tercatat minus US$15,89 juta (month to month). Kapas juga demikian, tercatat minus US$4,84 juta.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 02 April 2020  |  12:19 WIB
Pedagang menata kain tekstil di pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (11/2/2020). - Bisnis/Arief Hermawan
Pedagang menata kain tekstil di pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (11/2/2020). - Bisnis/Arief Hermawan

Bisnis.com, SEMARANG - Pelemahan kinerja ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Jawa Tengah sejalan dengan impor bahan baku TPT yang juga mengalami penurunan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah yang dikutip Kamis (2/3/2020) menunjukkan ekspor produk-produk TPT pada Februari 2020 cenderung melemah dibandingkan dengan Januari 2020. Ekspor pakaian jadi bukan rajutan tercatat minus US$15,89 juta (month to month). Kapas juga demikian, tercatat minus US$4,84 juta.

Kendati demikian, pada bulan Februari 2020, produk TPT lainnya seperti serat dan stafel buatan yang tercatat mengalami kenaikan US$2,96 juta atau barang rajutan yang juga masih mencatatkan ekspor lebih tinggi dibandingkan dengan Januari 2020 yakni US$2,41 juta.

Kondisi berbeda akan nampak jika mengambil akumulasi Januari-Februari 2020 dibandingkan dengan periode yang sama 2009. Hampir semua ekspor tekstil yang menjadi andalan Jateng mengalami pertumbuhan yang kurang menggembirakan.

Ekspor pakaian jadi bukan rajutan tumbuh tipis di angka 3,79% atau dari US$374 juta menjadi US$388,79 juta. Ekspor barang rajutan tercatat justru minus 3,9%. Sementara serat stafel buatan terkontraksi cukup dalam yakni 30,65% atau dari US$120,18 juta menjadi US$83,35 juta.

Penurunan kinerja ekspor sebagian produk TPT ini sejalan dengan penurunan impor bahan baku penopang industri tekstil. Pada Februari 2020 impor bahan baku penolong tercatat minus 12,51%.

Khusus untuk impor yang terkait dengan TPT, hampir semuanya mengalami kontraksi, terutama jika perbandingannya menggunakan periode Januari-Februari 2019 dan Januari-Februari 2020.

Pertama, komoditas kapas yang biasanya menjadi bahan baku benang tercatat terkontraksi dari US$95,48 juta menjadi US$82,54 juta atau 13,56%.

Kedua, kondisi serupa juga terjadi pada bahan baku tekstil lainnya seperti filamen buatan, serat stafel buatan, dan kain rajutan yang masing-masing minus 2,92%, 39,10%, dan 16,72%.

Pelemahan industri tekstil & produk tekstil lainnya sebenarnya telah diidentifikasi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng).

Asisten Ekonomi & Pembangunan Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng Peni Rahayu pernah menyampaikan bahwa pemerintah telah membuat matriks untuk mengantisipasi imbas virus corona atau COVID-19 terhadap perekonomian Jateng.

Untuk TPT, Pemprov Jateng , telah menyiapkan dua strategi yakni dalam jangka pendek dan jangka panjang. Strategi jangka pendek misalnya dilakukan dengan melakukan pendataan pada industri tekstil untuk penggunaan rayon di Jawa Tengah sebagai bahan baku substitusi impor.

Sementara untuk jangka panjang, pemerintah akan mengganti bahan baku kapas ke rayon atau bahan (substitusi) dengan kualitas dan harga yang sebanding. Selain itu, pemerintah juga segera mengoptimalkan 5 industri tekstil agar segera masuk kawasan industri Kendal.

Termasuk dalam hal ini pengembangan kawasan industri pada kawasan hulu dan hilir untuk pemenuhan bahan baku karena bahan bakunya berasal dari China sebesar 70%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor tekstil ekspor Jateng
Editor : Nurbaiti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top