Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pegowes Nekat Kumpul-Kumpul akan Dibubarkan jika Langgar Protokol Covid-19 Sleman

Pegowes atau pehobi sepeda di Sleman tidak bisa lagi kumpul-kumpul seenaknya, karena akan dibubarkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) jika melanggar protokol kesehatan Covid-19.
Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak - Bisnis.com 14 Juni 2020  |  15:38 WIB
Petugas membubarkan kerumunan pegowes di Utara Lapangan Denggung, Sleman pada Sabtu (13/6 - 2020) malam. Foto: Istimewa
Petugas membubarkan kerumunan pegowes di Utara Lapangan Denggung, Sleman pada Sabtu (13/6 - 2020) malam. Foto: Istimewa

Bisnis.com, SLEMAN - Pegowes atau pehobi sepeda di Sleman tidak bisa lagi kumpul-kumpul seenaknya, karena akan dibubarkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) jika melanggar protokol kesehatan Covid-19.

Minat masyarakat untuk bersepeda kian meluas. Mereka tidak hanya bersepeda di wilayah perkotaan tetapi juga wilayah pedesaan. Termasuk di wilayah lereng Merapi. Kondisi tersebut menimbulkan keresahan bagi sebagian warga.

Anto, warga Wonokerto, Turi misalnya, mengaku resah dengan banyaknya pesepeda yang banyak bersepeda di wilayahnya. Para pesepeda itu, katanya, seperti tidak mematuhi anjuran pemerintah untuk tidak berkerumun. "Kadang masker cuma dicantelke. Kadang mereka kumpul di sekitar bunker Tunggularum [Wonokerto]," katanya, Minggu (14/6/2020).

Kepala Desa Wonokerto Tomon Haryo Wirosobo mengatakan jika setiap akhir pekan memang banyak pesepeda yang berhenti di bunker Tunggularum. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Satgas Padukuhan untuk mengingatkan agar para pesepeda tetap menerapkan protokol kesehatan.

"Tadi saya langsung koordinasi dengan Satgas dan BPD dusun Tunggularum," kata Tomon.

Plt Kepala Satpol PP Sleman Arip Pramana mengingatkan agar masyarakat tidak mengundang keramaian di tengah pandemi Covid-19. Warga yang masih kedapatan berkerumun tetap akan dibubarkan. Termasuk para pegowes atau pesepeda yang berkerumun dalam satu tempat. "Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kerawanan dalam masa tanggap darurat Covid-19. Supaya tidak terjadi seperti di Malioboro. Kalau ada yang berkerumun akan dibubarkan," katanya.

Arip mencontohkan pembubaran yang dilakukan oleh aparat terhadap acara kumpul komunitas sepeda custom yang rencananya digelar pada Sabtu (13/6/2020) malam di Utara Lapangan Denggung. Jumat (12/6/2020) lalu, lanjut Arip, acara tersebut sudah dibatalkan oleh penyelenggara. Hal ini dilakukan agar tidak menyalahi protokol kesehatan dan maklumat Kapolri.

"Cuma saat kami patroli ke sana pada Sabtu [12/6/2020] kami dijumpai satu rombongan pesepeda non custom. Kemudian kami lakukan pembinaan dan sosialisasi terkait masa Tanggap Darurat Covid 19. Kami juga serahkan 34 masker bagi mereka," katanya.

Diakui Arip, kerumunan warga masih sering ditemukan. Terutama para pegowes. Tidak hanya di wilayah perkotaan tetapi juga di sisi Utara sekitar lereng Merapi seperti di sekitar Gardu Pandang, MGM dan lainnya. Arip terbuka bagi warga yang akan melaporkan kerumunan yang terjadi di masyarakat. "Kami akan kolaborasi dengan kepolisian untuk melakukan penindakan," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sepeda sleman bersepeda covid-19

Sumber : Harianjogja.com

Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top