Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pak Ganjar, Petani Bawang Putih Lokal Jateng Kesulitan Jual Hasil Panen

Petani bawang putih varietas lokal di berbagai daerah di Jawa Tengah saat ini tengah memasuki panen raya yang berlangsung mulai bulan Agustus 2020.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 09 Agustus 2020  |  07:07 WIB
Pedagang menunjukan bawang putih di salah satu pasar di Jakarta, Selasa (3/3/2020). Bisnis - Abdurachman
Pedagang menunjukan bawang putih di salah satu pasar di Jakarta, Selasa (3/3/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, SEMARANG - Sejumlah petani yang menanam bawang putih dengan varietas lokal kesulitan menjual hasil panennya di pasar. Tidak ada pembeli yang datang untuk menyerap hasil panen yang melimpah.

Petani bawang putih varietas lokal di berbagai daerah di Jawa Tengah saat ini tengah memasuki panen raya yang berlangsung mulai bulan Agustus 2020.

Varietas bawang putih lokal yang unggul seperti Lumbu Hijau, Tawangmangu Baru menghasilkan kualitas yang bagus. Sayangnya, tidak ada pembeli yang datang membeli hasil panen.

Hal itu dirasakan Kelompok Tani Rejeki Makmur Desa Segoro Gunung, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Di lereng Gunung Lawu, para petani menanam varietas Tawangmangu baru di atas lahan seluas 60 hektare. Hasil panen cukup melimpah.

Sudarno (49) salah satunya. Kelompok taninya saat ini sudah memasuki panen. Biasanya sebelum panen, banyak pembeli berdatangan untuk menawar harga. Harga bawang dalam kondisi basah dihargai Rp 18.000 per kilo dan setengah kering Rp25.000.

"Sampai saat ini belum ada pembeli datang. Padahal ini musim panen, hasilnya bagus. Kami khawatir tidak bisa menyimpan hasil panen," ucap Darno, Sabtu (8/8/2020).

Darno sendiri menanam bawang di area seluas 2 hektare. Usia tanam bawang sudah 110 hari. Ia baru akan panen 15 hari lagi. Sementara anggota kelompok tani lainnya sudah panen, dan tidak terserap pasar.

"Kami tidak tahu mengapa bawang-bawang lokal kami tidak ada peminat. Kami harap pemerintah bisa turun tangan , agar ke depan petani mau menanam bawang putih lagi," tambahnya.

Kesulitan menjual juga dialami petani bawang putih di Desa Mojo Tengah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Triono (35), salah satunya. Di lereng Gunung Merapi, dia menanam bawang putih lokal Lumbu Hijau di atas lahan seluas 2.000 meter persegi. Bersama kelompok tani, mereka mengelola lahan seluas 33 hektare.

Hasil panen bawang lokal melimpah. 1 hektare umumnya panen dengan hasil 7-8 ton. Namun, hasil panen tidak terserap pasar.

"Hasil panen bawang kami tidak laku. Belum ada pembeli yang datang. Saya hubungi pembeli, jawabnya pasar lagi penuh," ujarnya.

Tidak cukup disitu, hasil panen varietas lokal bahkan dipasarkan sampai ke daerah lain seperti Semarang, Tawangmangu, pembeli memilih produk impor.

"Kami tidak tahu ini karena pandemi atau apa. Kami berharap bawang kami bisa diserap pasar, atau jika tidak nanti bisa membusuk di rumah karena tidak bisa dijual," tambahnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah pada 3 Agustus 2020, bawang putih menjadi penyumbang deflasi sebesar 0,03 persen, selain bawang merah (0,12), daging ayam (0,06), gula pasir (0,02).

Deflasi bawang putih tercatat di wilayah Cilacap (0,04), Purwokerto (0,06), Kudus (0,03), Surakarta (0,03), Semarang (0,03) dan Tegal (0,02). Secara umum, Jateng pada Juli 2020 mengalami deflasi sebesar 0,09 persen. (k28)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bawang Bawang Putih panen
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top