Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal Bengkel Sapi Buatan Profesor UGM

Bengkel tersebut dibuka untuk memperkenalkan metode perawatan sapi yang lebih modern kepada peternak.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 07 Oktober 2021  |  00:22 WIB
Mengenal Bengkel Sapi Buatan Profesor UGM
Ilustrasi peternakan sapi. - Antara
Bagikan

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Di sela kesibukannya sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada, Ali Agus juga disibukkan mengurus bengkel di wilayah Kalijeruk, Ngemplak, Sleman. Bengkel tersebut bukan sembarang bengkel. Bukan kendaraan roda dua atau empat yang diperbaiki di bengkel itu, tapi justru sapi dan hewan ternak lainnya.

Sejak 2017 lalu, Ali mengelola ‘Bengkel Sapi’ tersebut untuk ‘memperbaiki’ sapi dan hewan ternak yang mengalami kekurangan nutrisi. Berbekal hasil riset yang dilakukannya selama puluhan tahun, pamor bengkel tersebut kini sudah dikenal peternak seantero tanah air.

“[Di sini] kita merekondisi sapi-sapi yang kekurangan gizi, lewat perbaikan pakan, terutama hijauan, rumput, dan sebagainya. Sementara ini [bengkel sapi] ada di Kalijeruk, Ngemplak, Sleman. Namun daerah lain juga sudah mulai mengadopsi ini,” jelas Ali, Rabu (6/10/2021).

Kepada Bisnis, Ali mengungkapkan bahwa pemberian pakan memiliki peran penting dalam usaha peternakan. Pasalnya, biaya produksi yang dikeluarkan untuk menyediakan pakan ternak bisa mencapai 70 persen dari keseluruhan biaya. “Kalau pakannya bermasalah ya babak belur usahanya,” jelasnya.

Selama ini, peternak tradisional masih bergantung pada ketersediaan bahan pakan alami. Ali menuturkan bahwa tanpa rekayasa dan pengelolaan yang tepat, kondisi tersebut akan mengganggu asupan gizi dan nutrisi ternak. Terlebih ketika memasuki musim kemarau.

“Musim kemarau ini biasa peternak kekurangan pakan, sehingga yang diberikan hanya jerami, hijauan rumput dan gedebok pisang, sehingga gizinya kurang,” jelas Ali.

Padahal, Ali menuturkan bahwa hewan ternak membutuhkan asupan pakan yang seimbang untuk bisa tumbuh secara optimal. “Sumber energi itu kan bisa rumput, jagung, jerami padi. Rumput pasti akan susah di musim kemarau. Sedangkan jerami kualitas gizinya rendah. Kita punya teknologi untuk mengolah jerami itu agar punya kualitas gizi yang lebih baik. Ada konsentratnya sendiri [yang mesti dicampurkan], kita punya formula yang bagus itu seperti apa,” jelasnya.

Perhatian yang diberikan Ali tersebut tidak tanggung-tanggung. Riset untuk menemukan formula pakan yang optimal pun telah dilakukannya hingga 20 tahun. “Setelah jadi [formula tersebut] maka kita kembangan. Ini metodenya terus mengikuti perkembangan keilmuan,” tambahnya.

Kini, ‘Bengkel Sapi’ milik Ali tak pernah sepi. Peternak dari berbagai wilayah di Indonesia sering mampir untuk sekedar berbagi ilmu. “Setiap Sabtu banyak tamu yang ingin belajar. [Tak cuma soal sapi] kita ada juga domba, ayam, kambing. Cuma yang menonjol sapi,” tambahnya.

Berkat keberhasilannya tersebut, metode pengolahan pakan yang diterapkan Ali mulai dilirik banyak pihak. Seperti peternak dari wilayah Ngawi, Blora, hingga Rembang. “Tetapi [kerja sama] ini rata-rata dengan pengusaha. Bukan dari pemerintah. Kebanyakan dari swasta langsung,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sapi peternakan sleman
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top