Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

UMP Jateng Naik Tipis, Begini Proyeksi Konsumsi Rumah Tangga

Daya beli kelompok buruh diperkirakan bakal mengendur. Namun, konsumsi rumah tangga masih bisa didorong.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 24 November 2021  |  19:45 WIB
Petugas memeriksa kartu vaksin Covid-19 milik pedagang saat razia vaksinasi di Pasar Pepedan, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (22/11/2021). - Antara/Oky Lukmansyah.
Petugas memeriksa kartu vaksin Covid-19 milik pedagang saat razia vaksinasi di Pasar Pepedan, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (22/11/2021). - Antara/Oky Lukmansyah.

Bisnis.com, SEMARANG – Ekonom Universitas Diponegoro (Undip) memperkirakan konsumsi rumah tangga di Jawa Tengah pada tahun 2022 masih bisa mengalami peningkatan. Meskipun Upah Minimum Provinsi (UMP) Jawa Tengah mengalami kenaikan tipis, tepatnya di 0,78 persen, konsumsi masyarakat kelas menengah ke atas masih bisa jadi penopang konsumsi rumah tangga di wilayah tersebut.

“Kondisinya kan sama dengan sekarang yang sebenarnya posisinya sedang recovery. Hanya mungkin [kenaikan UMP ini untuk] menjadi daya ungkit secara psikologisnya kurang begitu kuat,” jelas Wahyu Widodo, Dosen Ekonomi Pembangunan Undip, Rabu (24/11/2021).

Wahyu menjelaskan bahwa kenaikan UMP hanya akan memberikan dampak langsung pada kelompok buruh. “Yang lain-lain saya kira masyarakat berpendapatan menengah ke atas kalau besok direlaksasi setelah natal dan tahun baru, saya kira konsumsinya akan naik. Spending-nya akan naik,” jelasnya saat dihubungi Bisnis melalui sambungan telepon 

Jika melihat dari daya belinya, Wahyu menjelaskan bahwa daya beli kelompok buruh masih akan mengalami stagnasi karena terkendala UMP yang hanya naik tipis. “Tapi di kelompok masyarakat lain, sumbangan konsumsi itu akan jauh lebih besar,” tambahnya.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa Tengah secara tidak langsung telah membatasi pengeluaran masyarakat, utamanya kelompok menengah ke atas. Secara jangka panjang, sejumlah pelonggaran yang diberlakukan di beberapa daerah di Jawa Tengah diperkirakan baru bisa terlihat efeknya pada tahun 2022 mendatang.

“Sekarang ini kan [masyarakat] menahan diri karena situasi. Tetapi kalau saya lihat, orang sudah semakin adaptif dengan situasi yang ada. Juga dengan vaksinasi [Covid-19] yang coverage-nya semakin besar. Saya kira kok kasus Covid-19 ini tidak demikian fatal sekali. Ini kan ada adjustment yang baru yang jauh lebih positif. Saya kira masih akan lebih baik konsumsi di 2022, meskipun UMP-nya naik kecil,” jelas Wahyu.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah pada kuartal III/2021 masih bersumber dari usaha di sektor konstruksi. Sementara itu, secara umum, nilai ekonomi Jawa Tengah Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) masing-masing berada di Rp359,52 triliun dan Rp251,24 triliun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng Pertumbuhan Ekonomi ump jawa tengah konsumsi rumah tangga
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top