Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Air Hujan di Yogyakarta Tercemar Mikroplastik, Begini Dampaknya

Kandungan mikroplastik yang cukup mencengangkan itu salah satunya disebabkan padatnya kendaraan bermotor yang melintasi jalan raya.
Sunartono
Sunartono - Bisnis.com 13 Agustus 2022  |  17:53 WIB
Air Hujan di Yogyakarta Tercemar Mikroplastik, Begini Dampaknya
Ilustrasi berkendara saat musim hujan. - ADM
Bagikan

Bisnis.com, JOGJA — Hasil penelitian mahasiswa dan dosen prodi Biologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja menemukan adanya pencemaran mikroplastik pada kandungan air hujan di Kota Yogyakarta. Pencemaran paling parah terjadi di kawasan Tugu Pal Putih Kota Jogja yang dipicu oleh banyaknya kendaraan bermotor.

Peneliti Biologi UAD Safa Aulia Zahra menjelaskan mikroplastik telah terdeteksi pada jalan raya di sepanjang garis imajiner atau Sumbu Filosofi yang membentang dari Bantul, Kota Yogyakarta, hingga Sleman. Hasil penelitiannya menemukan kandungan mikroplastik tertinggi ditemukan pada sampel air hujan yang jatuh di kawasan Monumen Tugu Jogja dengan angka sebesar 393 partikel/L.

"Kemudian sampel yang kami amati pada jalan raya di depan Pasar Bantul yaitu 350 partikel/L, dan di Jalan Kaliurang kilometer 14 sekitar 322 partikel/L," katanya melalui keterangan tertulis, Sabtu (13/8/2022).

Dosen Biologi UAD Inggita Utami menambahkan kandungan mikroplastik yang cukup mencengangkan itu salah satunya disebabkan padatnya kendaraan bermotor yang melintasi jalan raya di pusat kota dan kabupaten di DIY. Di sisi lain, penelitian University of Hamburg, Jerman, menghasilkan sumber utama mikroplastik di atmosfer salah satunya berasal dari abrasi ban kendaraan bermotor.

Temuan itu sesuai dengan fakta karakteristik mikroplastik yang ditemukan pada sampel air hujan di Kota Yogyakarta yang berbentuk fiber atau serat, berwarna hitam, dengan ukuran 101 hingga 500 mikrometer. Adapun jenis polimer polipropilena yang menjadi polimer sintetis untuk pembuatan ban kendaraan.

"Sumber mikroplastik fiber di atmosfer dapat berasal dari limbah tekstil yang terhempas melalui udara. Industri tekstil yang kini banyak menggunakan serat sintetis, dapat melepas partikel mikrofiber ke atmosfer bahkan terbang menuju ke kawasan dengan jarak puluhan hingga ratusan kilometer," kata alumnus Magister Sustainability Sains di Tokyo University ini.

Ia menjelaskan polimer sintetis fiber tersebut bisa tercampur air hujan memenuhi sumber air tawar di area DIY. Hasil riset tim peneliti Laboratorium Ekologi dan Sistematika UAD ini sudah membuktikan dominasi mikroplastik berbentuk fiber pada Sungai Progo yang melintasi Sleman dan Bantul.

Warga masyarakat khususnya yang menampung air hujan untuk kebutuhan sehari-hari diminta lebih waspada. Sebab, partikel mikroplastik berukuran 1 hingga 5.000 mikrometer harus tersaring dengan filter mikroskopis.

"Pemerintah daerah khususnya dinas terkait yang menangani masalah pencemaran lingkungan sudah seharusnya merumuskan kebijakan dari hasil temuan mikroplastik di DIY ini. Hingga saat ini, mikroplastik belum menjadi parameter yang perlu diukur dalam baku mutu lingkungan. Padahal, mikroplastik yang terakumulasi di tubuh makhluk hidup menyebabkan iritasi saluran pencernaan hingga bersifat karsinogenik," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

yogyakarta diy air bersih air hujan

Sumber : JIBI/Harian Jogja

Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top