Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kuota Pupuk Bersubsidi di Temanggung, Begini Kondisinya

Pupuk urea bersubsidi sekarang hanya untuk tanaman padi, jagung, kedelai, kopi, kakao, tebu, cabai, bawang merah, dan bawang putih.
Sejumlah pekerja memindahkan pupuk urea ke salah satu gudang persediaan./Antara-Syifa Yulinnas
Sejumlah pekerja memindahkan pupuk urea ke salah satu gudang persediaan./Antara-Syifa Yulinnas

Bisnis.com, TEMANGGUNG - Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi cukup jika petani tertib dalam penggunaannya.

Kepala DKPPP Kabupaten Temanggung Joko Budi Nuryanto di Temanggung, Kamis (12/1/2023), mengatakan berdasarkan Permentan 10/2022 pupuk subsidi tinggal urea dan NPK ponska.

Jenis pupuk yang lain seperti ZA, SP, KCL dan sebagainya sudah tidak bersubsidi lagi sehingga harganya lebih mahal.

Ia menyampaikan pupuk urea bersubsidi sekarang hanya untuk tanaman padi, jagung, kedelai, kopi, kakao, tebu, cabai, bawang merah, dan bawang putih. Petani diimbau tertib dalam penggunaannya untuk komoditas tersebut dan tidak digunakan untuk tanaman lain tentu cukup.

"Sebelumnya lebih dari 60 jenis tanaman yang bisa menggunakan pupuk bersubsidi, sekarang tinggal sembilan jenis tanaman tersebut," katanya.

Ia menyebutkan di Kabupaten Temanggung sebelumnya kuota pupuk urea mencapai 38.000 ton setahun, sekarang tinggal sekitar 12.000 ton setahun.

"Pupuk urea bersubsidi tersebut jika digunakan sesuai ketentuan tentu cukup, tetapi kalau diselewengkan untuk memupuk tanaman yang lain maka tidak akan cukup," katanya.

Selain itu, katanya perlu kedisiplinan dari petani dalam penggunaan pupuk untuk jenis tanaman yang mendapatkan pupuk subsidi tersebut.

Ia mencontohkan satu hektare tanaman padi sesuai anjuran hanya membutuhkan urea 250 kilogram, tetapi terkadang petani mengusulkan 400-500 kilogram.

"Kenapa hanya 250 kilogram per hektare, karena itulah dosis yang paling tepat. Begitu titik tertentu mau ditambah maka akan datar hasilnya," katanya.

Joko menjelaskan patokan itu dipakai untuk efisiensi, jadi penggunaan urea 250 kilogram per hektare hasilnya sama dengan penggunaan urea 400 kilogram per hektare.

"Berarti hanya akan buang-buang duit saja jika menggunakan sampai 400 kilogram per hektare, karena meskipun ditambah pupuk dua kali lipat hasilnya tetap sama," katanya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Miftahul Ulum
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper