Penjualan Rumah Jateng Ditargetkan Tumbuh 11%

Oleh: Yustinus Andri DP 19 April 2018 | 11:53 WIB
Penjualan Rumah Jateng Ditargetkan Tumbuh 11%
Pekerja mengerjakan pembangunan salah satu perumahan mewah di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (15/1)./ANTARA FOTO-Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, SEMARANG — Di tengah lesunya pasar properti secara nasional, Real Estat Indonesia (REI) menargetkan penjualan rumah bersubsidi dan non subsidi di Jawa Tengah naik sekitar 11% pada tahun ini dari realisasi 2017.

Ketua DPD REI Jawa Tengah (Jateng) MR Prijanto menyebutkan penjualan rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tahun ini ditargetkan mencapai 7.500 unit. Sementara itu, untuk rumah non subsidi mencapai 2.500 unit, sehingga secara total mencapai 10.000 unit.

Jumlah tersebut dinilai tidak terlalu besar dibandingkan realisasi pada 2017 yang mencapai kurang lebih 9.000 unit. Dia menerangkan realisasi pada tahun lalu tersebut turun sekitar 15% dari capaian pada 2016.

Prijanto menjelaskan salah satu hal yang membuat daya beli rumah turun pada tahun lalu adalah tren di masyarakat yang memilih menunda belanja. Fenomena itu terutama cukup terasa pada perumahan non subsidi.

“Tahun lalu, bukan daya beli masyarakat turun tapi lebih ke kemauan mereka untuk beli rumah yang turun. Akhirnya, mereka menunda untuk beli rumah. Itu terlihat dalam sejumlah pameran. Sebab backlog di Jateng ini masih cukup tinggi,” katanya, belum lama ini. 

Berdasarkan data REI Jateng, penurunan penjualan rumah di Jateng pada 2017 merupakan yang pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.

Padahal, ungkap Prijanto, masyarakat kelas atas yang menjadi target pasar perumahan non subsidi baru saja mendapatkan sentimen positif dari kebijakan amnesti pajak. Sekadar catatan, realisasi penjualan rumah pada 2016 sempat mencapai sekitar 11.500 unit.

Di sisi lain, untuk rumah subsidi MBR, dia mengungkapkan salah satu kendala penjualan adalah kebijakan pemerintah pusat yang belum aplikatif di daerah. Salah satunya terkait insentif pemodalan yang relatif kecil kepada para pengembang rumah subsidi di daerah.

Selain itu, dari sisi calon pembeli, belum semua bank menyediakan akses pembiayaan yang mudah bagi MBR. Masyarakat pekerja informal menjadi salah satu kelompok yang dianggap belum bankable untuk mengajukan kredit perumahan.

“Mungkin baru bank besar yang memang spesifik menyediakan pembiayaan seperti BTN yang relatif mampu menjangkau. Selain itu, seperti Bank Jateng malah belum bisa,” ujar Prijanto.

Kendati demikian, dia cukup optimistis kenaikan akan terjadi pada tahun ini meskipun relatif tipis. Pasalnya, sejumlah daerah seperti Semarang, Solo Raya, dan Purwokerto telah menunjukkan geliat yang cukup signifikan.

Dalam hal ini, Semarang masih menjadi yang daerah yang memiliki pertumbuhan yang paling tinggi di Jateng. Kawasan Semarang Barat dan Semarang Selatan dinilai menjadi episentrum pertumbuhan yang paling kuat pada 2018.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya