Kebutuhan Terapis Spa di Soloraya Meningkat

Oleh: Bayu Jatmiko Adi 23 Agustus 2018 | 08:15 WIB
Kebutuhan Terapis Spa di Soloraya Meningkat
Terapi spa./News.com.au

Bisnis.com, SUKOHARJO – Bisnis spa disebut menjadi bisnis yang terus tumbuh setiap tahunnya. Pertumbuhan bisnis tersebut juga berdampak pada kebutuhan tenaga kerja profesional. Sementara saat ini kebutuhan tenaga kerja tersebut dinilai belum bisa terpenuhi secara optimal.

Christina Ika selaku Pengelola Nest Bina Bangsa yang juga Ketua (Asosiasi Spa Terapis Indonesia (Asti) Soloraya, mengatakan saat ini bisnis spa merupakan bisnis di bidang pariwisata yang berkembang dengan baik. Meski tidak menyebut jumlah secara pasti, dia memperkirakan jumlahnya terus bertambah.

"Saat ini kemungkinan sudah ada sekitar 100 lokasi spa di wilayah Solo dan sekitarnya. Sebab hampir semua mal ada outlet spa. Hampir semua hotel juga menyediakan spa. Belum lagi outlet yang ada di luar serta spa rumahan," kata dia saat ditemui JIBI di Sukoharjo belum lama ini.

"Di tempat kami saja dengan 16 outlet yang ada, kebutuhan setiap bulan minimal 50 terapis. Kalau permintaan sudah seperti itu kami pun harus siap menjadi training center. Tapi saat ini per bulan baru bisa menyiapkan 15 terapis, kondisi saat ini selalu kekurangan terapis," tambahnya.

Kebutuhan tenaga kerja tersebut di antaranya untuk mengganti tenaga kerja yang habis kontrak atau yang keluar dari pekerjaan karena alasan tertentu. Ada juga kebutuhan untuk menambah tenaga yang sudah ada.

"Kebutuhan masing-masing gerai tentu berbeda. Di tempat kami satu gerai minimal 15 terapis. Ada yang sampai 70 terapis. Kami juga berencana menyiapkan satu gerai dengan 150 terapis di Jakarta," kata dia.

Menurutnya belum banyaknya tenaga kerja sebagai terapis disebabkan karena belum banyak orang yang mengetahui tentang profesi tersebut. "Mungkin beberapa masyarakat juga masih melihat [profesi terapis] sebelah mata. Di sisi lain masih banyak tenaga kerja yang berpindah profesi, masih cari-cari pengalaman," kata dia.

Sebelumnya Analis Kebijakan Kementerian Pariwisata, Duta Indra Siregar, juga mengatakan bisnis spa merupakan salah satu jenis usaha yang ada di sektor pariwisata selain hotel, restoran dan sebagainya, yang cukup potensial.

Sumber : JIBI/Solopos

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya