Menengok Kampung Sentra Kulit Lumpia Tertua di Semarang

Oleh: Alif Nazzala Rizqi 28 September 2018 | 15:16 WIB
Menengok Kampung Sentra Kulit Lumpia Tertua di Semarang
Seorang warga di Kampung Kranggan, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, membuat kulit lumpia./JIBI/BISNIS/ Alif Nazzala Rizqi

Bisnis.com, SEMARANG - Jalan-jalan tak harus ke tempat wisata. Salah satu tempat yang cukup  unik yakni kampung Kranggan, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang.

Di kampung ini, Anda bisa menyaksikan proses pembuatan kulit lumpia tertua di Semarang. Kampung Kranggan juga telah diresmikan sebagai tempat wisata sentra kulit lumpia oleh Pemerintah Kota Semarang pada Februari 2018.

Sebanyak 45 rumah menjadi tempat pembuatan kulit lumpia. Tak heran, setiap hari warga kampung ini selalu sibuk dengan pekerjaan industri rumahan ini. 

"Sehari kami bisa menghabiskan empat karung tepung, atau satu kwintal tepung terigu. Satu karung tepung bisa dibuat sekitar 1.400 lembar kulit lumpia," kata Sumiati, pembuat kulit lumpia di Kampung Kranggan, Jumat (28/9/2018).

Sumiati mengatakan, bahan baku untuk membuat kulit lumpia cukup sederhana, yakni tepung terigu, ditambah garam dan diberi air hingga kekentalan yang diinginkan. Bahan juga tidak ditambah perasa lain.

"Kulit lumpia yang berukuran besar ini dijual Rp40.000 per 100 lembar atau Rp4.00 per lembarnya. Kalau ukuran sedang dijual Rp30.000 per 100 lembar," ujarnya. 

Dikatakan, cara membuat kulit lumpia cukup dengan cara memasukkan adonan dalam jumlah banyak ke dalam wajan, kemudian dengan cepat adonan kembali ditarik ke wadah. Dengan demikian, yang tersisa di wajan hanyalah kerak adonan yang tipis. Setelah itu, barulah kerak diangkat dan disebut menjadi kulit lumpia.

Kulit lumpia yang sudah jadi pun tinggal diangin-anginkan agar tidak basah, kemudian dibungkus menggunakan koran agar awet.

Kulit lumpia tidak hanya bisa dijadikan kulit luar untuk kuliner lumpia. Kulit ini bisa dijadikan kulit pisang karamel, kulit martabak dan lainnya.

Setiap hari, Sumiati dibantu tiga rekannya memproduksi kulit lumpia lebih dari 5.000 lembar. Pesanan kulit lunpianya tidak hanya datang dari Kota Semarang, juga dari Jakarta, Bandung, Kediri, Solo, bahkan Bali. 

"Masing-masing warga di sini sudah punya langganan, sehingga mereka tak bingung lagi untuk menjual kulit lumpia yang mereka buat," ujarnya.

Permintaan kulit lumpia akan dua kali lipat saat memasuki Lebaran. Untuk mengakomodir lonjakan permintaan itu, biasanya Sumiati meminta bantuan pembuat kulit lumpia di sekitar agar pesanan dapat diselesaikan.

"Paling ramai nanti Lebaran, sampai kita ajak tetangga bantu buat. Biar enggak kewalahan," tutupnya.

 

Editor: Nancy Junita

Berita Terkini Lainnya