OJK Jateng-DIY Pacu Peningkatan Literasi & Inklusi Keuangan Syariah

OJK Regional 3 Jawa Tengah dan DI Yogyakarta terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi jasa keuangan syariah yang masih rendah.
Lucky Leonard | 22 November 2018 16:05 WIB
Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan - Antara/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, SEMARANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 3 Jawa Tengah dan DI Yogyakarta terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi jasa keuangan syariah yang masih rendah.

Kepala OJK Regional 3 Jateng-DIY Aman Santosa mengatakan pihaknya memiliki misi meningkatkan inklusi produk keuangan syariah dan koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk memperbesar pangsa pasar keuangan syariah.

Adapun tingkat literasi maupun inklusi keuangan syariah di Jateng dan DIY masih relatif rendah.

Aman mengungkapkan erdasarkan hasil survey literasi yang dilakukan OJK pada 2016, indeks literasi keuangan syariah baru 8,11% dan indeks inklusi keuangan syariah sebesar 11,06%, sementara indeks literasi keuangan konvensional mencapai 29,66% dan indeks inklusi keuangan 67,82%.

"Jadi, memang masih ada PR atau tantangan yang cukup berat bagi kita untuk meningkatkan pemahaman masyarakat kita mengenai industri keuangan syariah," ujarnya saat membuka seminar keuangan syariah di kantor OJK Regional 3 Jateng dan DIY di Semarang pada Kamis (22/11/2018).

Dia menyatakan salah satu upaya yang dilakukan dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di Jateng dan DIY adalah dengan menggandeng industri jasa keuangan dalam menyosialisasikan produk syariah kepada masyarakat, termasuk kegiatan Islamic Financial Challenge (IFC) Regional Jateng dan DIY 2018.

Meskipun tingkat literasi dan industri keuangan syariah di Jateng dan DIY masih rendah, lanjutnya, perbankan syariah terus mengalami pertumbuhan positif dan tahun ke tahun.

Pada posisi September 2018, secara year on year (yoy) aset meningkat 9,63% dari Rp28,67 triliun menjadi Rp31,44 triliun, pembiayaan meningkat 19,07% dari Rp19,26 triliun menjadi Rp22,94 triliun, dan dana pihak ketiga (DPK) naik 7,45% dari Rp21,40 triliun menjadi Rp22,99 triliun.

Aman menyatakan seluruh kenaikan indikator tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan nasional yang pertumbuhan aset, pembiayaan, dan DPK-nya masing-masing 6,48%, 6,84%, dan 6,13%.

Selain itu, indikator perekonomian di Jateng cukup baik di antaranya pertumbuhan ekonomi 5,25% atau di atas pertumbuhan nasional 5,17% dan tingkat inflasi terjaga pada posisi 2,79% atau di bawah tingkat nasional yang 2,82%.

Kelembagaan syariah dalam bentuk bank wakaf mikro (BWM) yang telah didirikan di Jateng dan DIY pun cukup subur dengan tercatat 10 unit dari total 35 BWM se-Indonesia.

Tag : bank syariah, ojk
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top