Musim Kemarau: Debit Air Waduk di Jateng Susut 24 persen

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Tengah Eko Yunianto menjelaskan hampir semua waduk yang ada di Jawa Tengah mengalami penurunan mencapai 24 persen debit air.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  17:49 WIB
Musim Kemarau: Debit Air Waduk di Jateng Susut 24 persen
Warga berjalan melintasi kawasan waduk Kedungombo yang kering di desa Klewor, Kemusu, Boyolali, Kamis 3 Oktober 2013. Waduk yang kering tersebut menjadi jalan pintas bagi para petani yang menanami kembali kebunnya yang sebelumnya tergenang air. - Bisnis/Sunaryo Haryo Bayu

Bisnis.com, SEMARANG -  Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Tengah Eko Yunianto menjelaskan hampir semua waduk yang ada di Jawa Tengah mengalami penurunan mencapai 24% debit air.

"Contohnya, Waduk Malahayu, Cacaban, Rawapening, Kedungombo, Wonogiri, Lalung, Wadaslintang, Sudirman, Jatibarang, Penjalin, Jombor hingga Waduk Tempuran," kata Eko Selasa (25/6/2019).

Menurutnya, ada sekitar 41 waduk di wilayah Jawa Tengah mengalami penurunan debit air, memasuki musim kemarau tahun ini.

Eko menjelaskan kondisi terparah saat ini berada di Waduk Tempuran. Semula Waduk Tempuran punya ketersediaan air 1.532 juta meter kubik. Namun kini mulai mengering.

Eko mengaku jajarannya sedang mengebut proses pemeliharaan 41 waduk di 35 kabupaten/kota. Pemeliharaan waduk untuk menjaga aliran air ke lokasi pertanian tetap berfungsi dengan baik sekaligus memperkuat daya tampung waduk agar tetap terjaga. 

Eko menjelaskan, kondisi ini juga selaras dengan informasi peringatan dini dari BMKG. Kata dia,  kemarau pada tahun ini akan berlangsung cukup panjang hingga mencapai tujuh bulan.

Dia menambahkan, bukan hanya waduk saja,melainkan sungai juga mengalami penyusutan debit air. 

Menurutnya, saat ini pihaknya melakukan pemantauan terhadap penyusutan debit air di beberapa wilayah di Jawa Tengah.

"Di area sungai kita juga punya 135 kontrol poin di sungai. Tepian semua sungai secara kasat mata sudah mengering," tambahnya.

Eko menerangkan, dengan kondisi irigasi di negara kita yang masih mengandalkan aliran air sungai, maka saat ini membuat kebutuhan air untuk lahan pertanian semakin menurun.

"Sekarang sudah terasa ada banyak keluhan petani yang kekurangan pasokan untuk air irigasinya," jelasnya.

Lebih jauh Eko mengaku sudah berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait untuk menanggulangi persoalan kekeringan tersebut. 

Eko juga meminta petani memanfaatkan sisa-sisa air untuk membantu mengaliri irigasi sawahnya. Selain itu, pihaknya akan memberikan bantuan pompa bagi bagi petani yang mengalami kekeringan.

"Untuk itu, kita perkuat koordinasi dengan teman-teman kabupaten/kota. Karena harus kita sadari kalau itu bukan bersumber dari waduk, ya hanya bisa mengandalkan dari air yang mengalir. Apapun itu kita harus ada upaya yang maksimal untuk menolong para petani," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jateng, kemarau, waduk

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top