Jalan Tol Solo-Yogyakarta, Titik Lintasan Bergeser

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) tinggal menunggu usulan penetapan lokasi (penlok) jalan tol Solo-Jogja.
Taufik Sidik Prakoso
Taufik Sidik Prakoso - Bisnis.com 29 Juli 2019  |  15:29 WIB
Jalan Tol Solo-Yogyakarta, Titik Lintasan Bergeser
Tol Solo-Semarang. - Antara

Bisnis.com, KLATEN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) tinggal menunggu usulan penetapan lokasi (penlok) jalan tol Solo-Jogja. Ditargetkan, proyek jalan tol bisa dimulai pada 2020.

Sekda Pemprov Jateng, Sri Puryono, mengatakan pembahasan rencana proyek jalan tol Solo-Jogja sudah dilakukan. Ada sejumlah usulan yang disampaikan ke tim dari Kemen PUPR serta disetujui.

Salah satu usulan yakni menggeser rencana ruas jalan tol yang berdekatan dengan sumber mata air. Sebelumnya, pemkab meminta agar jalan tol yang bakal dibangun diantara Umbul Geneng dan Umbul Lanang di Kecamatan Kebonarum bisa digeser. Persegeran itu dilakukan menyusul aturan garis soal garis sempadan mata air yakni minimal radius 200 meter dari pusat keluarnya air.

Sementara, jarak kedua umbul hanya sekitar 200 meter. Alasan lain yakni pembangunan jalan tol bakal memengaruhi debit air kedua umbul yang dimanfaatkan PDAM Tirta Merapi Klaten untuk melayani air bersih ke 20.000 pelanggan.

“Trase sudah diperbaiki. Yang semula berdekatan dengan sumber mata air sudah dibelokkan. Soal exit tol dan rest area sudah ada revisi. Ya ditunggu lah usulan penlok,” kata Sri Puryono saat ditemui wartawan di Alun-alun Klaten, Minggu (28/7/2019).

Sri Puryono berharap usulan penlok dari Kemen PUPR segera diterima pemprov. Setelah usulan diterima, gubernur menelaah dan menetapkan. "Setelah ditetapkan, disosialisikan, kemudian ganti rugi lahan. Pada 2020 proyek bisa bisa berjalan. Pada 2021 sudah bisa untuk tol," jelas dia.

Disinggung banyak sawah di Klaten bakal tergusur tol, Sri Puryono menegaskan ada penggantian untuk sawah lestari yang tergusur tol. "Ada cadangan lahan yang bisa dijadikan sawah lestari. Itu tidak mengganggu ketahanan pangan. Semuanya sudah dihitung," jelas dia.

Sri Puryono berpesan agar Pemkab Klaten bisa mengambil peran keberadaan jalan tol Solo-Jogja. Dia berharap Klaten tak hanya menjadi daerah lintasan jalan bebas hambatan tersebut. “Di exit tol atau rest area, Klaten harus mengambil peran. Supaya masyarakat betul-betul diberdayakan di UMKM atau industri rumah tangganya,” urai dia.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengatakan rencana pembangunan jalan tol Solo-Jogja tersebut muncul bersamaan dengan rencana pemkab merevisi Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Pembahasan Perda RTRW bakal disesuaikan dengan keberadaan jalan tol.

“Nanti disesuaikan dan lokasi-lokasi di sekitar jalan tol di sisi kanan dan kiri bisa dikembangkan menjadi wisata, membangun kota mandiri, dan menyiapkan untuk UMKM Klaten,” urai dia.

Klaten menjadi salah satu kabupaten yang bakal dilintasi proyek jalan tol Solo-Jogja. Luas lahan di Klaten yang masuk dalam rencana terdampak tol sekitar 608 ha. Dari luasan itu, sekitar 73,91 persen atau 449 ha berupa sawah.

Sementara, pintu keluar tol atau exit tol bakal berada di tiga wilayah yakni Desa Borangan, Kecamatan Manisrenggo, Desa/Kecamatan Ngawen, serta desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo. Pemkab mengusulkan ada dua lokasi pintu keluar di Kapungan agar ada akses langsung ke kawasan industri dan wisata di Kecamatan Jatinom, Tulung, dan Polanharjo selain pintu keluar yang mengarah ke jalan nasional.

Sementara, rest area bakal ada di dua lokasi yakni Kecamatan Karangnongko dan Ngawen. Pemkab mengusulkan agar masing-masing rest area itu bisa menampung UMKM Klaten serta berada di dua ruas jalan tol.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tol solo-yogyakarta

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top