Semburan Api dari Perut Bumi di Sragen Membesar

Nyala semburan api dari perut bumi yang muncul di area tegalan di Dukuh Banyurip, Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Sragen, tetap konstan.
Moh Khodiq Duhri
Moh Khodiq Duhri - Bisnis.com 06 September 2019  |  15:18 WIB
Semburan Api dari Perut Bumi di Sragen Membesar
Pengunjung berusaha membakar daun jati kering pada titik semburan api dari perut bumi yang muncul di area tegalan di Dukuh Banyurip, Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Sragen, Kamis (5/9/2019). - JIBI/Muh Khodiq

Bisnis.com, SRAGEN — Sejak ditemukan pada 18 Agustus lalu, nyala semburan api dari perut bumi yang muncul di area tegalan di Dukuh Banyurip, Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Sragen, tetap konstan.

Meski begitu, lubang tempat keluar semburan api tersebut makin hari makin bertambah lebar. Pantauan JIBI di lokasi, Kamis (5/9/2019), keberadaan semburan api dari perut bumi itu masih menjadi daya tarik warga.

Warga terus berdatangan untuk menyaksikan fenomena alam yang tergolong langka itu. Api itu keluar dari lubang dengan diameter sekitar 25 cm. Bagian rongga lubang yang berupa tanah dan bebatuan terlihat berubah menjadi bara.

"Dulu lubangnya keluarnya api itu hanya segede pipa paralon yang kecil. Sekarang sudah bertambah lebar. Nyala apinya tetap besar seperti dulu. Namun, dulu berwarna kuning kemerahan, sekarang cenderung berwarna biru," jelas Mujiyono, 45, warga sekitar kala berbincang dengan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) di lokasi.

Meski secara geografi terletak di Desa Bonagung, titik semburan api dari perut bumi itu bisa dijangkau dengan melewati Desa Kalikobok, tepatnya di Dusun Banyurip. Sejak semburan api itu muncul, sejumlah warga sekitar mendirikan lapak untuk menjual aneka dagangan seperti es, gendar pecel, cilok, gorengan dan lain-lain. Saat ini terdapat lebih dari 10 pedagang yang membuka lapak. Mereka memanfaatkan keramaian pengunjung untuk mendulang rupiah.

"Biasanya saya berjualan di Pasar Desa Tanon. Karena jauh, sekarang saya buka di sini yang dekat rumah. Alhamdulillah, di sini saya malah bisa membawa dagangan lebih banyak," papar Pur Wakiyem, 60.

Bila api dari perut bumi itu terus menyala, rencananya warga akan mengemas menjadi paket wisata.

"Kami berencana memasukkan fenomena alam itu dalam satu paket wisata dengan kolam renang yang kami kelola. Kami tentu akan melibatkan dua karangtaruna di Dukuh Banyurip Desa Bonagung dan Dukuh Banyurip Desa Kalikobok untuk mengelola objek wisata alam itu," jelas tokoh masyarakat Desa Bonagung, Suwarno.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
unik

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top