Koin Kuno Dinasti Sung Ditemukan di Pertambangan Klaten

Koin yang ditemukan di lokasi pertambangan galian C Desa Tlogowatu, Kecamatan Kemalang merupakan koin China kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-10 hingga ke-11.
Taufik Sidik Prakoso
Taufik Sidik Prakoso - Bisnis.com 07 September 2019  |  13:32 WIB
Koin Kuno Dinasti Sung Ditemukan di Pertambangan Klaten
Warga menunjukkan temuan koin kuno di Sidomuluk, Tlogowatu, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (7/9/2019). Berdasarkan data pengamatan Dinas Pariwisata Pemuda Kebudayaan dan Olahraga Kabupaten Klaten, temuan koin kuno yang berada diarea penambang pasir lereng gunung Merapi tersebut diperkirakan salah satu peninggalan Dinasti Sung Utara pada abad ke X. - Antara/Aloysius Jarot Nugroho

Bisnis.com, KLATEN – Koin yang ditemukan di lokasi pertambangan galian C Desa Tlogowatu, Kecamatan Kemalang merupakan koin China kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-10 hingga ke-11.

Anggota Klaten Heritage Community (KHC) bidang Humas dan Publikasi, Hary, memperkirakan koin itu berasal dari Dinasti Sung. Dinasti Sung merupakan salah satu dinasti yang pernah memerintah Cina sekitar 960-1279 masehi. Dinasti Sung terbagi dua yakni Sung Utara dan Sung Selatan.

“Dari paleografi menunjukkan kata-kata Sung. Koin kuno dari Cina itu biasanya bertuliskan nama-nama kaisar mereka. Kalau koin dari Jepang itu identik dengan simbol-simbol negara,” kata Hary saat dihubungi JIBI, Jumat (6/9/2019).

Hanya, untuk memastikan asal koin itu dibuat perlu penelitian lebih lanjut. Dimensi koin serta jenis bahan yang digunakan bisa menjadi data pendukung.

Soal koin tersebut bisa sampai di Tlogowatu yang berada di lereng Gunung Merapi, Hary menjelaskan banyak kemungkinan. Bisa jadi koin itu dibawa orang China yang berguru dengan seorang pendeta di lereng Merapi sebagai uang saku atau hadiah.

“Atau bisa saja pada masa lampau ada tokoh yang tinggal di sekitar kawasan itu pernah bertemu dengan tokoh dari Dinasti Sung. Jadi kemungkinannya banyak,” urai dia.

Soal koin ditemukan dalam kondisi terikat tali ijuk, Hary memperkirakan koin dibawa pada masa Mataram Kuno yang berkuasa antara abad ke-8 hingga ke-10 masehi. Pada masa tersebut, harta dikelompokkan berjumlah 50 dan diikat.

“Nilai 50 itu kalau orang Jawa bilangnya seket. Asal-usul seket itu dari zaman Mataram Kuno. Jadi pada masa itu orang mengikat harta mereka dipisahkan dalam ikatan-ikatan. Setiap ikatan berisi 50 keping dan kerap dibawa sebagai bentuk persembahan,” jelas Hary.

Lebih lanjut, Hary berharap temuan itu segera dilaporkan ke Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) atau Balai Pelestari Benda Cagar Budaya (BPCB).

“Setiap peninggalan yang memiliki nilai pengetahuan lebih itu bisa menambah runtutan sejarah suatu daerah atau desa. Agar bisa ditelusuri lebih lanjut, saya harapkan temuan itu segera dilaporkan ke dinas terkait dan jangan diperjualbelikan,” kata dia.

Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Disparbudpora Klaten, Purwanto, mengatakan segera menindaklanjuti informasi soal temuan koin kuno tersebut. Dia mengaku sudah berkomunikasi dengan pemerintah Desa Tlogowatu ihwal temuan itu.

“Nanti kami data dulu temuannya apa dan dimana. Kami akan mendatangi lokasi. Sebenarnya kalau sesuai aturan itu, temuan benda cagar budaya itu wajib dilaporkan. Namun, dalam hal ini kami akan jemput bola,” kata Purwanto.

Tumpukan koin kuno ditemukan di lokasi pertambangan galian C di Dukuh Sidomuluk, Desa Tlogowatu, Kecamatan Kemalang, Selasa (3/9) sekitar pukul 16.00 WIB. Koin-koin itu ditemukan saat ekskavator dioperasikan untuk menyingkirkan bongkahan batu berukuran besar di lokasi pertambangan yang berada di lahan warga.

Koin ditemukan dalam kondisi berkelompok-kelompok terikat tali ijuk. Ciri-ciri koin berlubang pada bagian tengahnya dan terdapat ukuran yang identik dengan huruf mandarin.

Salah satu pekerja tambang, Marjono, mengatakan temuan koin kuno baru kali pertama terjadi di wilayah Tlogowatu. Saat ditemukan, sebagian koin sudah lapuk. Sementara, koin yang masih utuh sebagian disimpan warga setempat. “Kalau dari ceritanya, dulu Tlogowatu pernah digunakan untuk berlindung orang-orang Jepang,” kata dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
unik

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top