Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Api di Merbabu Kembali Muncul, Jateng Siapkan 'Water Bombing'

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Provinsi Jawa Tengah bakal menggunakan metode water bombing guna memadamkan kebakaran di Gunung Merbabu.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 19 September 2019  |  15:04 WIB
Kobaran api kebakaran Gunung Merbabu terlihat dari Gladagsari, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (13/9/2019). Berdasarkan data Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM) hingga Jumat siang, sekitar 225 hektare lahan terbakar di wilayah konservasi taman nasional serta merusak jaringan pipa air dari sumber mata air Gunung Merbabu menuju permukiman warga. - Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Kobaran api kebakaran Gunung Merbabu terlihat dari Gladagsari, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (13/9/2019). Berdasarkan data Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM) hingga Jumat siang, sekitar 225 hektare lahan terbakar di wilayah konservasi taman nasional serta merusak jaringan pipa air dari sumber mata air Gunung Merbabu menuju permukiman warga. - Antara/Aloysius Jarot Nugroho

Bisnis.com, SEMARANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Provinsi Jawa Tengah bakal menggunakan metode water bombing guna memadamkan kebakaran di Gunung Merbabu.

Kendati demikian, karena kondisi medan dan letak mata air saat ini masih didata dan pemantauan wilayah. Hal tersebut dilakukan untuk pendaratan Helikopter agar tidak menimbulkan kerusakan rumah warga, atau kondisi bahaya lainnya.

Kepala BPBD Jateng, Sudaryanto mengatakan, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Merbabu memang masih terjadi. Padahal sebelumnya, Minggu (15/9/2019) lalu dikabarkan sudah padam.

"Minggu saat pak Ganjar tinjau ke sana memang sudah padam. Tapi angin kan kencangnya luar biasa, jadi mungkin ada bara yang belum benar-benar padam, membesar lagi," kata Sudaryanto, Kamis (19/9/2019).

Dia juga membenarkan adanya sejumlah desa terdampak Karhutla. Sebab, pipa yang mengalirkan air dari Tuk (Mata Air) Sipendok rusak terbakar sehingga warga tak mendapat pasokan air. "Itu (pipa yang rusak) sepanjang 3 kilometer laporannya," tambahnya.

BPBD Jateng, kata dia, sudah berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait. Terutama yang memiliki peralatan untuk water bombing. Di sisi lain biaya water bombing yang juga tidak murah.

"Sekali jalan, satu jam terbang itu sudah ratusan juta. Nah ini milik BNPB masih difokuskan di Kalimantan jadi kita nanti pinjam ke Penerbad," ujarnya.

Kendati demikian, kata Sudaryanto, Karhutla yang terjadi jauh dari pemukiman warga. Hanya saja, pipa yang digunakan untuk saluran air dari Tuk letaknya tidak dipendam sehingga ikut terbakar saat peristiwa.

"Sampai saat ini proposal darurat kebakaran masih dibuat, nanti tinggal disampaikan ke Pak Gub untuk ditindak lanjuti," tambahnya.

Sinergi antara relawan, aparat TNI-POLRI, hingga warga saat ini masih sangat berarti dalam pencegahan meluasnya kebakaran. Dia berharap, warga yang terdampak bisa bersabar dan turut membantu pemadaman.

"Sampai saat ini saya belum dapatkan data lengkap, itu dari Kalak (Kepala Pelaksana) BPBD Boyolali yang tahu persis. Kita juga harus lihat, pakai Heli itu di wilayah mana bisa mendarat. Dipastikan juga tidak ada SUTET jadi semua aman," katanya. (k28)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kebakaran lahan jawa tengah
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top