Jateng Komitmen Beri Karpet Merah untuk Investor

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen memberikan karpet merah, atau mengundang dan memudahkan investor, untuk menanamkan modalnya.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 25 September 2019  |  13:16 WIB
Jateng Komitmen Beri Karpet Merah untuk Investor
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo - Antara

Bisnis.com, SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen memberikan karpet merah, atau mengundang dan memudahkan investor, untuk menanamkan modalnya.

Hal ini bertujuan mempercepat pencapaian target Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jateng sebesar 7 persen dalam dua tahun ke depan.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan, pemerintah harus memfasilitasi dan memberikan komitmen kepada investor untuk masuk. Situasi global yang masih memanas menjadi peluang agar Jateng dapat menarik investasi lebih banyak.

“Kami komitmen kasih karpet merah untuk investor, karena situasi eksternal sedang tidak bagus. Peluang itu harus bisa kita tangkap, agar pebisnis tetap bisa mengembangkan usahanya,” tuturnya saat menerima kunjungan Bisnis Indonesia ke Kantor Gubernur Jateng, Selasa (24/9/2019).

Jateng memiliki sejumlah keunggulan agar pebisnis tertarik menanamkan modalnya. Dari sisi birokrasi pemerintahan, proses perizinan cenderung mudah, cepat, dan murah.

Pada periode pertama kepemipinannya pada 2013—2018, permasalahan utama yang dibereskan ialah korupsi. Ketika pondasi birokrasi sudah kuat, maka pengembangan pelayanan ke depannya akan lebih mudah.

Jateng juga masih memiliki ruang lahan yang dapat dimanfaatkan. Kawasan Industri Kendal (KIK) pada tahun ini akan meningkat statusnya menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pemprov Jateng juga akan mengembangkan sentra-sentra indsutri baru, seperti di Kawasan Industri Brebes.

Daya tarik Jateng lainnya, sambung Ganjar, adalah iklim politik yang cenderung kondusif. Sebagai contoh, demo yang dilaksanakan pada Selasa (24/9/2019) berlangsung aman, dan situasi panas cenderung mereda setelah mahasiswa bertemu Gubernur.

“Selain itu, kondisi hubungan industrial antara kebutuhan para pebisnis relatif bagus,” imbuhnya.

Pelaku usaha juga kerap mengaitkan potensi Jateng terkait Upah Minimum Regional (UMR) atau Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) yang cenderung terjangkau. Dalam hal ini, Pemprov Jateng berupaya mengajak pengusaha untuk lebih transparan dan pekerja lebih realistis.

Adanya sinergi membuat produktivitas mengalami peningkatan. Terbukti ekspor Jateng cenderung meningkat. Tiga sektor yang menjadi andalan adalah tekstil dan produk tekstil (TPT), mebel, dan alas kaki.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor non migas Jateng pada Januari—Juli 2019 mencapai US$4.823,5 juta, tumbuh 3,78 persen year on year (yoy) dari Januari—Juli 2018 sebesar US$4.648,04 juta.

Dari sisi produk, Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) masih menjadi primadona, karena berkontribusi 43,88 persen dari total ekspor atau US$2.117,04 juta. Adapun, produk kayu dan perabotan berkontribusi 19,04 persen atau US$918,39 juta, serta alas kaki 5,49 persen atau US$264,96 juta.

Peti kemas

Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang, Jawa Tengah

Pertumbuhan Ekonomi

Peningkatan investasi diharapkan turut mendongkrak PDRB Jateng. Menurut Ganjar, Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 7 persen dapat tercapai pada 2023. Namun, harapannya target itu dapat diraih lebih cepat.

“Bu Sri Mulyani sudah bilang siap bantu agar Jateng mencapai [pertumbuhan ekonomi] 7 persen. Tapi saya mikirnya kalau bisa lebih cepat mengapa tidak. Dalam 2 tahun bisa sampai 7 persen,” ujarnya.

Pada kuartal II/2019, PDRB Jateng baru mencapai 5,6 persen. Oleh karena itu, butuh upaya lebih untuk mendorong pertumbuhan.

Selain memudahkan investor masuk, Jateng akan membenahi infrastruktur agar memudahkan konektivitas dan jalur logistic. Salah satu fokusnya adalah membuat suplly chain menggunakan jalur loop Kereta Api.

“Jalur KA kita sudah ada, melingkar menghubungkan utara selatan. Memang masih perlu koordinasi, agar KA untuk logistic dapat dimaksimalkan, bersama dengan pengembangan dry port,” imbuhnya.

Berdasarkan catatan Bisnis, pemerintah pusat juga merencanakan pengembangan sejumlah tol di Jateng atau melewati, seperti Semarang—Demak, Bandung—Tasikmalaya—Cilacap, Bawen—Yogyakarta, Kudus—Pati—Rembang—Tuban, dan Solo—Yogyakarta. Pemprov Jateng pun tengah mengembangkan bandara di Solo, Purbalingga, Pulau Karimun, Blora.

Di sektor tenaga kerja, Jateng mengupayakan perubahan kurikulum SMK agar sesuai dengan kebutuhan industri. Selain itu, sambung Ganjar, pertumbuhan ekonomi juga akan selaras dengan pemerataan, karena turut melibatkan sektor UMKM.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, jateng

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top