Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tingkat Kemiskinan Jateng Masih 10,8 Persen

Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas diyakini bisa menurunkan tingkat kemiskinan di Jawa Tengah menjadi satu digit atau di bawah 10 persen pada 2019.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 21 November 2019  |  18:50 WIB
Seorang nelayan memperbaiki jaring di kawasan dermaga Kampung Bahari Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah, Senin (18/11/2019). - Antara/Aji Styawan
Seorang nelayan memperbaiki jaring di kawasan dermaga Kampung Bahari Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah, Senin (18/11/2019). - Antara/Aji Styawan

Bisnis.com, SEMARANG — Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas diyakini bisa menurunkan tingkat kemiskinan di Jawa Tengah menjadi satu digit atau di bawah 10 persen pada 2019.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Kamis (21/11/2019), per Maret 2019 tingkat kemiskinan di Jawa Tengah mencapai ke 10,8 persen dengan jumlah penduduk miskin 3,74 juta orang.

Angka itu menurun dari posisi per September 2018 sebesar 11,32 persen dengan jumlah penduduk miskin 3,89 juta orang. Namun, persentase itu masih di bawah rata-rata nasional sebesar 9,41 persen per Maret 2019.

Ekonom Universitas Katolik Soegijapranata Andreas Lako, angkan kemiskinan di Jawa Tengah menurun seiring dengan peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi dan aksesbilitas infrastruktur. Oleh karena itu, diperkirakan tingkat kemiskinan Jateng per September 2019 akan turun di bawah 10 persen.

“Ada kemungkinan target Pemerintah Provinsi menekan angka kemiskinan satu digit terealisasi pada tahun ini,” ujarnya, Kamis (21/11/2019).

Untuk semakin menekan angka kemiskinan, para pemangku kepentingan perlu berfokus dalam pengembangan infrastruktur di zona merah. Infrastruktur tersebut mencakup konektivitas yang menghubungkan antar desa dan titik-titik yang masih terisolasi.

Wilayah kabupaten dengan zona merah atau angka kemiskinan tertinggi ialah Brebes, Banyumas, Kebumen, Pemalang, dan Cilacap. Padahal, daerah-daerah itu memiliki potensi ekonomi yang besar, tetapi pertumbuhahannya kurang berkualitas.

Akibatnya, tingkat kemiskinan dan kesenjangan sosial, yang ditunjukkan dengan indeks gini rasio, masih tinggi. Per Maret 2019, gini rasio di Jateng mencapai 0,361, meningkat 0,004 poin dari September 2018 sebesar 0,357.

“Semakin tinggi gini rasio, semakin tinggi juga ketimpangan ekonomi. Ini menjadi salah satu pekerjaan rumah menuntaskan kemiskinan,” imbuhnya.

Pengurangan kemiskinan akan semakin cepat jika wilayah zona merah mengoptimalkan potensi perekonomiannya. Misalnya, di Brebes akan dibangun Kawasan Industri (KI), sebagai salah satu prioritas pengembangan Pemerintah Jateng.

Selain itu, karena wilayah Brebes, Cilacap, dan Banyumas cenderung berdekatan dengan Jawa Barat, Pemprov Jateng dapat berkoordinasi dengan Pemprov Jabar perihal peluang kolaborasi bisnis dan pembangunan.

Andreas menambahkan, mengentaskan kemiskinan erat kaitannya dengan upaya memacu pertumbuhan ekonomi Jateng, yang ditargetkan mencapai 7 persen pada 2023. Kemiskinan yang menurun akan berdampak terhadap kondisi sosial yang kondusif, sehingga aktivitas ekonomi dapat berjalan optimal.

“Jadi pemerintah harus melihat pertumbuhan 7 persen yang berkualitas. Artinya pertumbuhan itu berdampak positif terhadap sosial dan memerhatikan lingkungan,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jawa tengah kemiskinan
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top