Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Empat Warga Sukoharjo Meninggal Akibat DBD

Hingga pekan ke-24, jumlah penderita DBD di Sukoharjo tercatat ada sebanyak 131 orang dengan kasus meninggal empat orang.
Indah Septiyaning Wardhani
Indah Septiyaning Wardhani - Bisnis.com 17 Juni 2020  |  15:33 WIB
Empat Warga Sukoharjo Meninggal Akibat DBD
Ilustrasi-nyamuk demam berdarah. - Foxnews
Bagikan

Bisnis.com, SUKOHARJO - Seorang warga di wilayah Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, meninggal dunia akibat menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Hingga pekan ke-24, jumlah penderita DBD di Sukoharjo tercatat ada sebanyak 131 orang dengan kasus meninggal empat orang. Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) menyebut penderita penyakit DBD terus meningkat dalam sebulan terakhir.

Angka kasus DBD tertinggi berada di wilayah Kecamatan Sukoharjo yang mencapai 25 kasus. Kemudian disusul Kecamatan Bendosari 19 kasus, dan Kecamatan Nguter 15 kasus.

"Hingga pekan ini angka kasus DBD ada 131 kasus dan kematian empat kasus. Angka kematian itu meningkat satu kasus di pekan ini dari wilayah Kecamatan Tawangsari," kata Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Penyakit Menular DKK Sukoharjo, Bejo Raharjo, Rabu (17/6/2020).

Bejo mengatakan dalam sepekan ada peningkatan 11 kasus DBD di Sukoharjo, satu di antaranya meninggal dunia. Menurutnya DBD merupakan salah satu penyebaran penyakit yang patut diwaspadai masyarakat Sukoharjo saat ini.

Apalagi jumlah kasus terus meningkat seiring perubahan musim dari penghujan ke kemarau. Bejo pun memperkirakan kasus DBD terus meningkat apalagi jika masyarakat abai terhadap kebersihan lingkungan.

"Selama peralihan penghujan ke musim kemarau meningkatkan risiko penyebaran penyakit, salah satunya DBD. Hujan deras hingga menyebabkan genangan air di mana-mana dapat menjadi tempat bagi berkembangbiaknya nyamuk DB," katanya.

Bejo menilai masih rendahnya kesadaran warga dalam menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi salah satu faktor pemicu kasus DBD. Berbagai langkah preventif dilakukan guna menekan peningkatan kasus DBD.

Salah satunya petugas melakukan penanggulangan dengan fokus di daerah terjangkit. Kemudian penyediaan logistik abate dan insektisida, serta memantau jentik oleh kader pemantauan di desa berisi tinggi.

DKK juga melakukan gerakan satu rumah satu jumantik (petugas pemantau jentik). Dimana setiap rumah harus ada satu anggota keluarga yang mengawasi jentik di rumah masing-masing.

Sementara itu warga di wilayah Kabupaten Sukoharjo mulai melakukan fogging atau pengasapan, serta aktif pemantauan jentik-jentik nyamuk guna menekan penyebaran kasus DBD.

Seperti dilakukan warga di wilayah RT 001 RW 003 Banmanti, Kecamatan Sukoharjo yang melaksanakan pemantauan jentik nyamuk dari rumah ke rumah. Pemantauan dilakukan dengan melibatkan pemuda dalam karang taruna wilayah setempat.

"Dari 70 rumah kita temukan ada empat rumah yang ada jentik nyamuknya," kata Ketua RT 001 RW 003 Eko Setiawan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dbd demam berdarah pemkab sukoharjo

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top