Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ribuan Mahasiswa Meninggalkan Yogyakarta, Begini Dampak Ekonominya

Sebelum pandemi kontribusi pendidikan tinggi di DIY dalam perekonomian semakin besar.
Herlambang Jati Kusumo
Herlambang Jati Kusumo - Bisnis.com 03 Agustus 2020  |  09:31 WIB
Tugu Yogyakarta. - webtempatwisata.com
Tugu Yogyakarta. - webtempatwisata.com

Bisnis.com, YOGYAKARTA - Bank Indonesia DIY menilai menurunnya aktivitas mahasiswa di DIY dengan kebijakan pembelajaran daring dinilai akan terasa dampaknya menurunkan kontribusi pendidikan pada pertumbuhan ekonomi di DIY.

Diketahui berdasar kajian yang pernah dilakukan BI DIY menunjukkan kontribusi pendidikan tinggi di DIY dalam perekonomian semakin besar.

Berdasarkan hasil survei dan kajian dengan point yang sama di 2016 dan 2020 diketahui terdapat peningkatan pengeluaran biaya mahasiswa di DIY. Di 2020, pengeluaran biaya hidup dan biaya pendidikan mahasiswa mencapai Rp17,2 triliun per tahun atau setara dengan 12,2 persen dari PDRB DIY. Sementara, pada 2016 kontribusi pengeluaran biaya mahasiswa sebesar 10,4 persen dari PDRB DIY.

Pengeluaran biaya hidup mahasiswa DIY melonjak hampir dua kali lipat dalam empat tahun terakhir. Pada 2020, rata-rata biaya hidup mahasiswa Program Studi Diploma dan Sarjana di DIY mencapai Rp2,92 juta/bulan. Pengeluaran mahasiswa tersebut bahkan lebih tinggi dibanding Upah Minimum Provinsi (UMP) DIY 2020 sebesar Rp1,7 juta.

Konsumsi mahasiswa di DIY mulai merambah ke kebutuhan sekunder dan tersier. Pada saat ini komponen makan dan minum masih menjadi kebutuhan utama dengan porsi 30,2 persen dari pengeluaran mahasiswa. Selanjutnya terdapat tambahan pengeluaran untuk gaya hidup atau lifestyle yang mencapai 24,6 persen dari pengeluaran mahasiswa dan sewa pondokan dengan porsi 20,1 persen

“Pendidikan ini memang sumbangannya besar bagi pertumbuhan ekonomi. Untuk dampak dari pandemi Covid-19 pada sektor pendidikan tentu sangat terasa. Bisa dilihat mungkin yang masuk cuma biaya kuliah, untuk yang lain seperti mereka makan, laundry, mereka hangout, akan berkurang [jika dilakukan pembelajaran daring],” ucap Hilman, Minggu (2/8/2020).

Belum lagi menurutnya jika mahasiswa luar daerah lebih memutuskan untuk berkuliah di daerah mereka sendiri.

“Bisa saja yang sebenarnya mau kuliah di DIY, tetapi karena kondisi seperti ini akhirnya memilih kuliah di daerahnya sendiri. Kecuali memang dia di DIY sudah dapat kampus yang ternama, kalau yang mungkin secara kualitas bukan bermaksud merendahkan tetapi ada yang sama dengan yang ada di daerahnya, mungkin mereka akan memilih kuliah di daerahnya,” ujarnya.

Sebelumnya Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) DIY pernah melakukan survei terhadap 51 PTS di DIY dengan 403 program studi, 142.219 mahasiswa aktif, 5.225 dosen dan 3.894 tenaga pendidik.

Hasilnya, sebanyak 57.334 mahasiswa (40 persen) merupakan asli warga DIY dan 84.885 mahasiswa (60 persen) merupakan pendatang. Dari puluhan ribu mahasiswa pendatang itu, APTISI DIY memperoleh hasil bahwa 27 persen atau 22.928 mahasiswa berada di DIY dan 73% atau sejumlah 61.957 mahasiswa sudah pulang ke kampung halaman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

yogyakarta mahasiswa

Sumber : JIBI/Harian Jogja

Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top