Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gubernur Ganjar Minta Usulan Penundaan Pilkada Dipertimbangkan

Jika dipaksakan, Pilkada Serentak di tengah pandemi saat ini memang sangat berbahaya.
Alif Nazzala R.
Alif Nazzala R. - Bisnis.com 21 September 2020  |  13:39 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (tengah) berbincang dengan Country General Manager Indonesia PT Beko Appliances Ali Cagri Gonculer (kanan) dan Sales Director Arif Setiawan, saat penyerahan bantuan tiga ventilator mekanik untuk penanganan pasien Covid-19, di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (9/9/2020). Ventilator produksi dari Arcelik, perusahaan induk Beko Indonesia, yang telah menyediakan sebanyak 5.000 ventilator untuk didonasikan ke berbagai pihak baik domestik maupun internasional. - Antara/R. Rekotomo
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (tengah) berbincang dengan Country General Manager Indonesia PT Beko Appliances Ali Cagri Gonculer (kanan) dan Sales Director Arif Setiawan, saat penyerahan bantuan tiga ventilator mekanik untuk penanganan pasien Covid-19, di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (9/9/2020). Ventilator produksi dari Arcelik, perusahaan induk Beko Indonesia, yang telah menyediakan sebanyak 5.000 ventilator untuk didonasikan ke berbagai pihak baik domestik maupun internasional. - Antara/R. Rekotomo

Bisnis.com, SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta pemerintah pusat menganalisis dan mempertimbangkan usulan sejumlah pihak tentang penundaan Pilkada Serentak 2020.

Menurut Ganjar, jika dipaksakan, Pilkada Serentak di tengah pandemi saat ini memang sangat berbahaya.

Sebelumnya, usulan penundaan Pilkada Serentak 2020 terus digaungkan. Setidaknya, dua organisasi keagamaan besar di Indonesia, yakni PBNU dan Muhammadiyah secara tegas meminta pemerintah menunda pelaksanaan Pilkada Serentak karena dinilai dapat membahayakan masyarakat.

"Iya, silahkan dari Kementerian, Pemerintah Pusat, KPU, Bawaslu untuk menganalisis dan memperhitungkan. Memang kalau kita melihat di daerah zona merah, ini (Pilkada Serentak) sangat berbahaya," kata Ganjar, Senin (21/9/2020).

Menurut Ganjar, penundaan Pilkada sangat mungkin dilakukan dalam kondisi saat ini. Tinggal bagaimana KPU, Bawaslu atau Kemendagri membicarakan itu secara baik-baik berdasarkan data yang ada.

"Semua sangat mungkin, tinggal nanti bagaimana keputusannya. Tapi memang ini sangat bahaya," tegasnya.

Ganjar mencontohkan, di Jawa Tengah sendiri sudah ada klaster dari para penyelenggara Pilkada. Di Boyolali misalnya, ada banyak anggota Panwaslu yang positif Covid-19.

"Maka saya kemarin menyarankan agar semuanya digelar virtual. Dulu saya juga usulkan, mungkin tidak menggunakan e-votting. Tapi karena ini belum terlalu dipercaya, bisa jadi masalah," imbuhnya.

Atau lanjut Ganjar, pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi daerah penyelenggara. Di daerah zona merah, maka pelaksanannya bisa ditunda.

"Bisa saja, ada yang ditunda, ada yang tetap jalan di tempat-tempat tertentu, tapi dengan pembatasan dan pelaksanaan protokol kesehatan yang sangat ketat. Jadi, memang harus dipertimbangkan kondisi-kondisi itu, agar tidak terjadi klaster baru yakni Pilkada," pungkasnya.

Usulan penundaan Pilkada Serentak 2020 disampaikan secara resmi oleh PBNU. PBNU meminta pemerintah menunda pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 sampai masa darurat Covid-19 terlewati.

Selain itu, PBNU juga meminta agar pemerintah merelokasi anggaran Pilkada Serentak untuk penanganan kesehatan masyarakat di tengah pandemi. PBNU juga meminta pemerintah mempertimbangkan masukan terkait pelaksanaan Pemilu yang marak dengan aktivitas money politik.

Usulan penundaan Pilkada Serentak juga disampaikan PP Muhammadiyah. Organisasi keagamaan di Indonesia ini meninjau kembali pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 dan melakukan penundaan demi keselamatan masyarakat Indonesia. (k28)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pilkada 2020
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top